Hari Kartini

50 Karya Komunitas 22 Ibu Maknai Hari Kartini 

Pameran yang juga bertepatan dengan Hari Kartini itu memajang 50 buah karya dari 50 perupa dari `Komunitas Seni Rupa 22 Ibu`

50 Karya Komunitas 22 Ibu Maknai Hari Kartini 
Tribun Bali/I Nyoman Mahayasa
Pameran seni rupa yang menghadirkan karya para perempuan dari “Komunitas 22 Ibu” digelar di Bentara Budaya Bali mulai Sabtu (21/4/2018). Pameran bertajuk Sang Subjek itu menampilkan berbagai macam aliran seni mereka, mulai dari kubisme, dadaisme, lukisan variatif hingga ekspresionisme. 

Masalah ini adalah masalah kesenirupaan sebagai bahasa atau dengan cara apa sesuatu diucapkan.

Dalam hal ini masalah, yang dimaksud adalah bentuk representasi `Komunitas 22 Ibu` tentang tema Sang Subjek.

Kedua, masalah yang bertalian dengan gagasan yang tidak kasat mata.

Tidak terlihat secara visual, tetapi dapat dirasakan kehadirannya.

Masalah ini adalah masalah yang tersembunyi di balik unsur visual. 

Secara garis besar, menurut Hardiman, subject matter yang dihadirkan `Komunitas 22 Ibu` ini terdiri dari antara lain keseharian, renungan diri, profesi, dan eksistensi para perempuan.

"Keseharian, misalnya, secara terbuka memperlihatkan posisi perempuan ketika menjalankan dirinya sebagai subjek dalam kehidupan sehari-hari. Ini tampak pada karya Ariesa Pandanwangi, Dyah Limaningsih Wariyanti, Eneng Nani Suryati, Nina Fajariah, Nita Dewi Sukmawati. Subject matter keseharian ini sebagaimana yang digambarkan dalam konsep Nuning Damayanti. Misalnya: saya ingin menyampaikan persoalan dan perenungan mengenai hubungan aku sebagai realitas hari ini yang juga sebagai refleksi kebudayaan sosialita hari ini, hubungan antara aku dengan manusia dan kehidupan vertikal horizontal di sekelilingku yang perlu diperjuangkan dengan caraku sendiri, karena aku pemeran utama dalam duniaku," imbuh Hardiman.

Kurator Bentara Budaya Bali, Warih Wisatsana, mengatakan pameran ini merupakan bukti peran dan figur seorang perempuan atau ibu yang menginspirasi lahirnya karya-karya yang bernilai seni tinggi.

"Para kreator tidak hanya berupaya mengelaborasi sosok ataupun ketokohan ibu secara harfiah atau sehari-hari, namun juga menggali nilai-nilai luhur simbolisnya," kata Warih. 

Pameran seni rupa ini, menurutnya, juga tidak bisa lepas dari upaya memberi arti untuk Hari Kartini dan Hari Perempuan Internasional yang jatuh tanggal 8 Maret.(*)

Penulis: Putu Supartika
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved