Waspada Obat Kuat Oplosan, Bisa Berakibat Kematian Mendadak

Sekitar 80 hingga 90 persen penderita gangguan atau disfungsi seksual memilih untuk mengonsumsi obat-obat kuat

Waspada Obat Kuat Oplosan, Bisa Berakibat Kematian Mendadak
tribunnews.com
ilustrasi 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Asosiasi Seksologi Indonesia Cabang Denpasar menyebutkan, sekitar 80 hingga 90 persen penderita gangguan atau disfungsi seksual memilih untuk mengonsumsi obat-obat kuat tanpa berkonsultasi  lebih dulu dengan dokter ahli.

Menurut Ketua Asosiasi Seksologi Indonesia Cabang Denpasar, dr Oka Negara FIAS, obat-obat kuat yang dijual bebas di pasar itu, terutama secara online, kurang bisa dipertanggungjawabkan dari sisi kesehatan.

Bahkan bisa membahayakan kesehatan pemakainya.

“Di era digital ini, praktik mengecoh konsumen justru mendapatkan wahana yang luas. Pasang foto produk (obat kuat, red) dan nama produknya dibikin bombastis. Lalu pakai embel-embel herbal alami, jadinya ya laris. Apalagi jika produknya dikemas dalam berbagai bentuk mulai kapsul, pil hingga racikan serbuk kopi," ungkap Oka Negara ketika ditemui Tribun Bali di ruang Andrologi dan Seksologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana (Unud), Denpasar, Sabtu (21/4/2018).

Oka Negara melihat, penjualan obat-obat kuat dengan klaim khasiat yang bombastis itu lebih banyak didorong oleh motif ekonomi pembuatnya.

Produsennya, kata dia, mengerti bahwa problem disfungsi seksual banyak terjadi di masyarakat Indonesia dan kemudian memanfaatkan kondisi tersebut. 

“Pembuatan obat kuat seperti itu tidak disertai motif dan tanggungjawab medis dari produsen dalam melindungi kesehatan konsumen. Peredaran obat kuat seperti itu merajalela di dunia maya atau online shop,” kata Oka. 

Oka menjelaskan, banyak ditemui isi dari produk-produk tersebut sama sekali bukan obat yang benar-benar untuk mengatasi disfungsi seksual.

Berdasarkan hasil uji kandungan di laboratorium Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Denpasar, diketahui bahwa isinya hanya berupa campuran dari suplemen, vitamin, antioksidan.

"Lebih tepatnya obat ini adalah obat oplosan. Hasil uji laboratorium membuktikan kandungan obat-obat yang diperoleh dari pasar bebas itu memiliki takaran dosis yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara medis," terangnya.

Halaman
123
Penulis: eurazmy
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved