Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Wayan Rai, Pengrajin dan Pemain Alat Musik Penting Khas Karangasem Tetap Eksis di Usia 76 Tahun

Belajar sendiri dengan cara membeli satu Penting dari temannya, ia gunakan sebagai contoh dan dibuat hingga sekarang

Tayang:
Tribun Bali/Putu Supartika
I Wayan Rai memainkan alat musik Penting 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Tak banyak yang tahu bahwa Karangasem memiki alat musik khas yang bernama Penting.

Seiring kemajuan alat musik modern, tak banyak pula yang memainkan alat musik ini begitu pula pengrajin atau pembuat alat musik ini juga jarang.

Hanya ada dua orang pengrajin alat musik ini, yaitu I Wayan Rai dan Anak Agung Gede Krisna Dwipayana.

I Wayan Rai kini telah berusia 76 tahun, akan tetapi masih konsisten membuat alat musik ini sekaligus menjadi pemain musik penting.

"Saya sudah membuat alat musik ini sejak tahun 1965. Setelah tidak ada lagi yang membuat, saya yang membuat," kata Rai ketika ditemui di rumahnya, Jalan Letda Arti, Amlapura, Jumat (27/4/2018) siang.

Belajar sendiri dengan cara membeli satu Penting dari temannya, ia gunakan sebagai contoh dan dibuat hingga sekarang walaupun usianya tidak muda lagi dan kadang-kadang harus terhenti karena sakit yang dideritanya ia tetap membuat alat musik ini.

Menurut Wayan Rai, alat musik ini digunakan saat odalan yang disebut pegongan, saat pengabenan yang disebut paangklungan, dan saat pernikahan juga digunakan untuk mejogedan atau macekepung.

Karyanya ini sudah terjual ke seluruh Bali termasuk ke luar Bali seperti Lombok, Jakarta, bahkan sudah terjual hingga ke Jepang.

"Tamu Jepang sering mencari ke sini, biasanya saya titip di Tenganan, dijual satu juta, mungkin di sana dijual dua juta sampai tiga juta, kalau ada ukirannya harganya Rp 1,5 juta," kata Rai.

Untuk membuat alat musik ini ia menggunakan kayu pinus, kamper, maupun kayu mas dan senarnya terbuat dari senar gitar.

Dan jika dikerjakan secara penuh satu alat musik ini akan selesai dalam tujuh hari.

Dulu juga pernah saat ia masih bekerja sebagai tukang bangunan dari Tenganan meminta order 5 buah sebulan, sehingga dia harus bekerja ekstra untuk menggarap alat musik ini.

Namun karena faktor kesehatan, akhir-akhir ini ia jarang membuat alat musik Penting ini.

Ia juga memiliki satu sekaa dengan beranggotakan 21 orang dan pernah pentas di PKB sebanyak 4 kali.

Akan tetapi sekaa tersebut tidak memiliki nama.

Rai juga mengatakan saat ini, pemuda jarang sekali yang meminati musik ini.

"Ten wenten kayun. 3 tabuhan manten sampun ten seleg. (Tidak ada yang mau. Tiga kali permainan saja sudah selesai)," imbuh Rai. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved