Teror Bom di Surabaya

Selamatkan Anak Pengebom, AKBP Roni: Ini Demi Kemanusiaan, Semuanya Butuh Pertolongan

"Ini demi kemanusiaan, semuanya butuh pertolongan. Apalagi ia masih anak‑anak," ujar Roni.

Selamatkan Anak Pengebom, AKBP Roni: Ini Demi Kemanusiaan, Semuanya Butuh Pertolongan
Kolase Tribun Video
Bocah diduga anak pelaku serangan bom diselamatkan di Mapolrestabes Surabaya 

"Bom itu dimiliki ayahnya dan meledak sendiri. Kita akan sampaikan nanti. Tiga anak itu tentu tahu persis," kata Tito.

Pasangan Anton Febrianto dan Puspitasari (47) punya empat anak, dua orang mengalami luka-luka dan satu orang selamat. Satu orang lainnya ikut tewas bersama Anton dan Puspitasari

Seorang korban bom di Polrestabes Surabaya  merupakan seorang tukang parkir bernama Ainul Yaqin (31). Ia dijadwalkan menjalani operasi di RS Port  Health Center (PHC) Surabaya.

Husninatul Ghassani, humas RS PHC Surabaya mengungkapkan korban tiba di rumah sakit dalam kondisi sadar dan mengeluh sesak nafas.

"Korban dibawa pukul 09.45, sudah menjalani operasi untuk mengeluarkan udara dari dadanya. Operasi kedua masih menunggu alat karena harus mengeluarkan serpihan yang masuk lewat lubang di dadanya," ujar Husninatul.

Serpihan yang mengenai korban belum diketahui jenisnya. Kemungkinan serpihan dari sepeda motor, kaca, atau bom. Serpihan ini melukai bagian dada hingga kepala korban.

Aksi bom bunuh diri mengejutkan orang-orang di sekitar lokasi. Hafid, seorang pedagang di pujasera pinggir Jl  Jembatan Merah, berada sekira 150 meter dari Polrestabes Surabaya,  awalnya mengira ledakan itu berasal dari ban meletus.

Menurut Hafid, 10 menit sejak terdengar letusan, sekira pukul 09.10,  para pedagang di sepanjang pinggir  Jl Jembatan Merah diminta pindah.

Seorang saksi lainnya, Sayudi, mengatakan mendengar dua kali ledakan. "Saat itu saya sedang menyiram kembang di pujasera Jalan Jembatan Merah. Ada suara ledakan dua kali berturutan," kata Sayudi.

Namun, para petugas mencegah Sayudi mendekat ke lokasi. Ia melihat asap mengepul.

"Saya mendengar suara ledakannya cukup dasyat," katanya.  Tak lama kemudian Sayudi diminta untuk pindah dari tempatnya menyiram kembang. (surya/tim)

Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved