Kerasnya Hidup Sebagai Nelayan yang Menggantungkan Hidup Pada Cuaca

Terlihat ratusan perahu nelayan yang berjajar rapi di Pantai Kelan. Para nelayan tampak sudah berdatangan untuk mempersiapkan

Kerasnya Hidup Sebagai Nelayan yang Menggantungkan Hidup Pada Cuaca
Tribun Bali/Rino Gale
Mahsun salah satu nelayan di Pantai Kedonganan yang sedang memperbaiki jaring, Sabtu (19/5/2018). 

"Ini angin timur, karena angin yang kencang dan gelombang tinggi, hasil tangkapan ikan jadi sepi," tuturnya.

Menurut Mahsun, sebenarnya dari bulan April hingga 6 bulan kedepan, cuaca sudah stabil.

Namun angin kencang dan gelombang tinggi akhir-akhir ini, menyebabkan hasil tangkapan ikan hanya sedikit.

Hal ini seringkali membuat rugi nelayan karena hasilnya hanya cukup untuk membeli bahan bakar perahu.

"Kalau sekarang ikan tongkol dan cumi-cumi saja yang didapat, namun kemarin ada teman-teman yang dapat ikan terbang ukurannya 40 kiloan," ungkapnya.

Lanjutnya, saat ini biaya perlengkapan perahu tidak sebanding dengan hasil tangkapan ikan yang tidak menentu.

Satu kali berlayar bisa mengeluarkan uang sebesar Rp 500 ribu, mulai dari biaya bahan bakar hingga untuk membeli bekal makan ketika melaut.

"Yah, minimal itu mengeluarkan Rp 500 ribu untuk biaya makan dan bahan bakar pergi melaut sekali berangkat, namun hasil tangkapan ikan belum tentu lebih besar dari itu," katanya.

Mahsun mengaku, menjadi nelayan yang hanya mengandalkan hasil tangkapan ikan, sebenarnya tidak cukup untuk biaya kehidupan sehari-hari.

"Kalau untuk kehidupan sehari-hari, dibilang cukup ya cukup, dibilang tidak cukup ya tidak cukup. Istri dan anak-anak saya ada di Jawa, jadi saya setiap 6 bulan sekali ke sini untuk berlayar, toh ya saya tidurnya di gubuk sini, tidak ngekos," ungkapnya.

Mahsun berharap, ia dan teman-teman nelayannya bisa mempunya perahu sendiri, karena kebanyakan nelayan di Pantai Kelan masih memakai perahu orang lain (juragan).

"Saya masih bawa punya orang (juragan), belum punya sendiri, nanti kalau saya punya modal inginnya punya perahu sendiri. Kalau yang di sini, rata-rata perahu bukan punya nelayan sendiri, tapi punya pengepul," pungkasnya.(*)

Penulis: Rino Gale
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved