Waspada Makanan Mengandung Zat Kimia Berbahaya, Kenali Ciri-Cirinya!
Mengingat hal itu, Aryapatni menghimbau kepada masyarakat agar lebih waspada dan kritis sebelum membeli produk pangan.
Penulis: eurazmy | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Laporan Wartawan Tribun Bali, eurazmy
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Penggunaan zat kimia berbahaya pada bahan pangan sehari-hari terbukti masih kerap dijumpai.
Hal ini terungkap saat sidak pengawasan bahan pangan Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Denpasar dalam rangka pengamanan bahan pangan menjelang hari raya Galungan dan bulan Ramadan 2018 di Pasar Kereneng, Senin (21/5/2018).
Sebelumnya, sejak awal Mei 2018 kemarin, BBPOM sudah melakukan sidak di 7 pasar tradisional yang ada di seputaran Denpasar dan Kabupaten Badung.
Dari total sementara hasil sidak dan uji rapid test terhadap sampling sejumlah makanan tersebut, masih didominasi temuan pangan mengandung zat formalin dan rhodamin B.
"Dari 7 pasar yang sudah kita periksa, rata-rata ditemukan makanan mengandung dua zat itu, formalin dan rhodamin B. Ini hampir kita jumpai di tiap tahunnya," ungkap Kepala BBPOM Denpasar, Dra. I Gusti Ayu Adhi Aryapatni kepada awak media usai pengawasan, Senin (21/5).
Mengingat hal itu, Aryapatni menghimbau kepada masyarakat agar lebih waspada dan kritis sebelum membeli produk pangan.
Untuk mengetahui makanan itu berformalin atau bukan, terang Aryaptni bisa diketahui dengan dua cara, yakni dari segi bentuk dan juga dari segi bau.
Dari segi fisik, Aryapatni mencontohkan bahwa tahu berformalin busa diketahui dari bentuk tahu yang awet dan memiliki tekstur keras.
"Kalau tahu yang bebas formalin, pasti teksturnya lembut dan berlendir. Nah, kalau untuk ikan asin berformalin agak sulit. Tapi jika anda peka, aroma ikan terasa sepat di mata, karena uap formalin bisa membuat mata iritasi," paparnya.
Sementara untuk produk makanan mengandung zat pewarna tekstil, terang dia, bisa diketahui secara mudah dari warna yang mencolok.
"Kalau pewarna alami daei coklat atau gula merah kan keliatan soft warnanya," ujarnya.
Zat-zat kimia ini tentu sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh kita.
Bahan dengan zat rhodamin bersifat karsinogenik yang memicu pertumbuhan sel kanker.
"Memang pengaruhnya gak cepat, efeknya baru bisa muncul bertahun-tahun kemudian," katanya.
Lebih lanjut, dalam mengawal peredaran bahan pangan ini memang dirasa agak sulit.
Sebab itu, ia menghimbau agar masyarakat bisa meningkatkan kesadaran secara mandiri dalam ikut mengawasi bahan pangan ini.
"Semisal ikan teri itu kan produk luar bali. Jadi emang agak sulit tindak lanjutnya. Ini juga musti ada peran penting dari pemerintah," tukasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/jajanan-mengandung-zat-kimia_20180522_104826.jpg)