Dahsyatnya Serangan Asteroid yang Nyaris Musnahkan Penghuni Bumi, Hanya Satu Spesies Ini Bertahan

Serangan asteroid puluhan juta tahun lalu disinyalir memiliki daya lenyap berpuluh-puluh kali lipat lebih dahsyat ketimbang bom Hiroshima.

Dahsyatnya Serangan Asteroid yang Nyaris Musnahkan Penghuni Bumi, Hanya Satu Spesies Ini Bertahan
Tribun Bali/ Istimewa
Ilustrasi serangan asteroid 

TRIBUN-BALI.COM - Serangan asteroid puluhan juta tahun lalu disinyalir memiliki daya lenyap berpuluh-puluh kali lipat lebih dahsyat ketimbang bom Hiroshima.

Dampaknya, kita tidak pernah lagi melihat peradaban dinosaurus. Namun sebuah penelitian mengungkap fakta baru mengapa satu spesies mahluk hidup sanggup bertahan hidup

Ketika asteroid menghantam bumi 66 juta tahun lalu, semua mahluk hidup di dalamnya terpaksa menyesuaikan diri demi bertahan hidup.

Saat itu, terjadi perubahan suhu yang begitu besar dan awan panas menyelimuti hampir seluruh permukaan bumi dan berdampak pada kematian penghuni bumi dalam jumlah besar.

Baru-baru ini, muncul studi baru mengenai dampak asteroid terhadap kelangsungan penghuni bumi, khususnya burung.

Studi itu menyebut satu-satunya jenis burung yang dapat bertahan hidup dari serangan asteroid yakni 'spesies burung yang tinggal di darat'. Apa yang menyebabkan hal ini bisa terjadi?

Dengan mempelajari fosil burung sebelum terjadi serangan asteroid dan paska dampak, para peneliti meyakini burung yang tinggal di tanah merupakan satu-satunya yang berhasil bertahan hidup.

 
Para peneliti mempelajari fosil dedaunan dari waktu ke waktu dan menemukan fakta bahwa asteroid memicu kebakaran besar dan menyapu habis sebagian besar hutan.

Penggundulan hutan ini mengakibatkan spesies burung yang dapat terbang di udara tidak lagi dapat bersarang di pepohonan, banyak dari mereka akhirnya tidak dapat bertahan hidup.

Namun sebaliknya, burung-burung yang hidup di darat, seperti puyuh misalnya, sanggup menyesuaikan diri dan waktu.

Melansir sebuah perdebatan yang ditayangkan majalah Science, para ilmuwan tidak sedikit yang menyangsikan penelitian ini.

Mereka menganggap temuan ini hanya didasari segelintir bukti.

"Ini merupakan perdebatan yang telah berlangsung selama beberapa dekade lamanya dan tak akan menemukan titik temu dalam waktu singkat," ujar Joel Cracraft dari Museum Sejarah Alam Amerika di New York City. (*)

Editor: Ady Sucipto
Sumber: Grid.ID
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved