Inilah Filosofi Penjor Menurut Lontar Tutur Dewi Tapini

Seperti yang dikutip Tribun Bali dari inputbali.com, penjor adalah simbol dari Naga Basukih, dimana Basukih berarti kesejahteraan dan kemakmuran

Inilah Filosofi Penjor Menurut Lontar Tutur Dewi Tapini
Tribun Bali / AA Gde Putu Wahyura
Krama Bali di Denpasar Utara saat sedang memasang penjor, di Denpasar, Selasa (4/4). 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Rino Gale

TRIBUN-BALI.COM - Seperti yang dikutip Tribun Bali dari inputbali.com, penjor adalah simbol dari Naga Basukih, dimana Basukih berarti kesejahteraan dan kemakmuran.

Selain itu penjor juga merupakan simbol gunung yang memberikan keselamatan dan kesejahteraan.

Umat hindu khususnya di Bali biasanya ketika menyambut Hari Raya Galungan memasang penjor pada Hari Selasa Anggara warawuku Dungulan (Penampahan Galungan).

´┐╝Penjor berasal dari kata penjor, yang berarti Pengajum atau Pengastawa, kalau dihilangkan huruf “ny”, menjadi kata benda yaitu Penyor yang berarti sebagai sarana untuk melaksanakan Pengastawa.

Memasang penjor bertujuan untuk mewujudkan rasa bakti dan sebagai ungkapan terimakasih atas kemakmuran yang diberikan oleh Ida Sang Hyang Widhi (Tuhan).

Bambu yang melengkung adalah gambaran dari gunung tertinggi sebagai tempat yang suci.

Hiasan penjor yang terdiri dari kelapa, pisang, tebu, jajan, dan kain adalah wakil dari semua tumbuh-tumbuhan dan benda sandang pangan, yang dikaruniai oleh Hyang Widhi Wasa (Tuhan).

Keberadaan bahan-bahan pembuat penjor tersebut tentu memiliki arti dan filosofinya masing-masing.

Berdasarkan lontar Tutur Dewi Tapini menyebutkan :

Halaman
12
Penulis: Rino Gale
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved