Bali Punya Dua Gunung Api Aktif, Masyarakat Didorong Memahami Mitigasi Bencana

Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Geologi, Mineral dan Batubara menggelar Diklat Penyuluh Mitigasi Bencana Gunung Api

Bali Punya Dua Gunung Api Aktif, Masyarakat Didorong Memahami Mitigasi Bencana
Tribun Bali/Widyartha Suryawan
Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Geologi, Mineral dan Batubara menggelar Diklat Penyuluh Mitigasi Bencana Gunung Api di Grand Inna Kuta, Badung, Senin (4/6/2018). 

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Geologi, Mineral dan Batubara menggelar Diklat Penyuluh Mitigasi Bencana Gunung Api di Grand Inna Kuta, Badung, Senin (4/6/2018).

Kegiatan tersebut bertujuan untuk menambah wawasan dan kesiapan peserta diklat terkait ancaman bencana gunung api. Terlebih lagi, masyarakat Bali belum lama ini sempat dihadapkan dengan peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Agung.

Kepala Sub-Bidang Mitigasi Pemantauan Gunungapi Wilayah Timur PVMBG, Devy Kamil Syahbana hadir sebagai salah satu pemateri. Ia memaparkan mengenai pembentukan gunung api dan segala hal yang berkaitan dengan gunung api.

"Masyarakat harus mengetahui karakteristik, bahaya, dan dampak dari gunung api agar bisa memitigasi itu," ujar Devy.

Menurutnya, diklat seperti ini bukan hanya sebagai kuliah dan bekal bagi peserta diklat saja. Dalam jangka panjang, peserta diklat dapat menularkan ilmunya kepada masyarakat luas.

Terlebih lagi, kata Devy, gunung api di Bali tergolong jarang mengalami erupsi. Hal itu menyebabkan kesadaran atau persiapan mitigasi bencana agak kurang dibandingkan daerah lain yang gunung apinya sering meletus.

"Bali punya Gunung Agung dan Gunung Batur yang masih aktif, tetapi lama tidak beraktivitas (meletus). Inilah pentingnya mitigasi bencana karena menyangkut kesiapan (pra) sebelum bencana gunung api terjadi. Jadi, mitigasi bukan saat bencana itu telah terjadi," imbuhnya.

Devy menambahkan, terlepas dari masih kurangnya kesiapan beberapa waktu lalu, erupsi Gunung Agung juga telah memberi hikmah tersendiri.

Misalnya, forum-forum terkait mitigasi bencana mulai dibicarakan oleh masyarakat Bali. Termasuk juga forum kesiapsiagaan bencana di grup-grup Whatsapp dan platform media sosial lainnya.

"Gunung Api di Bali jarang erupsi, sehingga kesadaran akan mitigasi harus dilakukan secara maraton; bukan sprint. Namun, itu tidak berarti hanya menghabiskan waktu untuk itu saja. Ritme juga perlu dijaga agar masyarakat makin tangguh menghadapi bencana," pungkasnya. (*) 

Penulis: Widyartha Suryawan
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved