Manusia Bali Berkarakter Seperti Air, Dilahirkan Dari Air Dan Kembali Pada Air, Ini Penjelasannya

Dalam air suci itu Ketut Sumadi menceritakan pengalamannya dalam membantu orang lain menghadapi pengobatan.

Manusia Bali Berkarakter Seperti Air, Dilahirkan Dari Air Dan Kembali Pada Air, Ini Penjelasannya
Tribun Bali/M. Fredey Mercury
Pemedek tampak mengantre untuk melukat di tirta bulakan dan tirta taman. Minggu (18/3) 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Dalam acara Holy Water Festival yang berlangsung di Padukuhan, Banjar Dukuh, Desa Kenderan, Kec Tegallalang, Gianyar, Bali, Minggu (3/6/2018) yang dimulai sekitar pukul 08.00 - 13.00 Wita turut hadir sebagai pembicara Dr Ketut Sumadi. 

Ketut saat diwawancarai tribun-bali.com menyebutkan bahwa Bali merupakan Peradaban Air yang memiliki manusia berkarakter seperti air

"Berbicara tentang Peradaban Air, sesungguhnya Manusia Bali itu berkarakter seperti air. Karena dalam konteks kearifan lokal kita,kelahiran manusia itu diawali dari air. Dalam istilah di Bali ada air putih dan air merah yang merupakan pertemuan antara air laki-laki da air perempuan pada saat mereka ingin melanjutkan keturunan." sebut Sumadi. 

Itulah kenapa di Bali sambungnya sangat meyakini air.

Dari air kita lahir dan kembali juga kepada air. Ini bisa dilihat dari prosesi ritual di Bali

"Ketika manusia lahir bersama dengan air ketuban, lalu ari-arinya ditanam ke tanah juga dengan air. Setelah dewasa juga ritual prosesinya menggunakan air, dan ketika meninggal kembali ke air yakni abu-nya dibuang ke laut." sambungnya. 

Air laut kata Sumadi juga diambil untuk tirta Penglukatan, pada saat Melasti, juga pada saat melakukan pembersihan jiwa, raga maupun lingkungan kita. 

"Hubungannya dengan Holy Water Festival adalah sangat penting, karena akan membangun kesadaran tentang peradaban air di Bali. Sebab kita melihat keadaan air di Bali ini mulai kacau nih, barangkali kita perlu menjaga sumber mata air kita, sungai-sungai kita, untuk dibangkitkan lagi. Sebab kita memiliki sumber mata air yang bagus, juga sebagai wisata untuk membangun kesadaran." kata Ketut Sumadi. 

Selain itu ia menuturkan ada perilaku dari masyarakat yang kurang bijak seperti membeli air

"Padahal sesungguhnya kita tidak perlu membeli air lagi. Kita sangat tergantung sama air yang kita beli. Oleh karena itu saya mengingatkan jual beli air ini mohon mendapat perhatian. Artinya mata air yang sesungguhnya milik masyarakat jangan sampai dimiliki oleh konglomerat atau apalah." tuturnya. 

Dalam air suci itu Ketut Sumadi menceritakan pengalamannya dalam membantu orang lain menghadapi pengobatan. 

"Itu menjadi tugas kita. Tidak bisa disebutkan berapa jumlahnya tetapi yang pasti air suci ini membantu dalam proses pengobatan. Jika ada yang datang minta tolong yah kita bantu dengan air." kata Ketut. 

Berhubungan dengan 11 mata air di Desa Kenderan lanjut Ketut, menurutnya mata air tersebut harus dijaga. 

"Tentu harus dijaga dan dirawat. Kan hitungannya 11 itu adalah angka yang keramat jadi kita sudah bisa menemukan dunia mata air yang paling suci begitu dan itu merupakan Puncak kehidupan kita." tambahnya. 

Karena itu dirinya mendukung Holy Water untuk membawa kesejahteraan sebagaimana mitologi tiga naga di Bali yang menjaga mata air. (*)

Penulis: Busrah Ardans
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved