Loise Hardman, Penemu Mesin Daur Ulang Plastik Serukan Semangat Cinta Lingkungan

Loise Hardman, aktivis lingkungan asal Australia hadir sebagai pembicara dalam lokakarya ‘How to Become A Plastic Neutral Community'

Loise Hardman, Penemu Mesin Daur Ulang Plastik Serukan Semangat Cinta Lingkungan
Istimewa
Loise Hardman 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Loise Hardman, aktivis lingkungan asal Australia hadir sebagai pembicara dalam lokakarya ‘How to Become A Plastic Neutral Community’, di kantor Konsulat Jenderal Australia, Renon, Denpasar, Rabu (6/6/2018).

Dalam materinya, Hardman menegaskan bahwa untuk menciptakan komunitas yang plastik-netral tidak memerlukan pemikiran yang rumit.

Prinsipnya sederhana.

“Masyarakat harus mengubah pemikirannya. Lihatlah plastik sebagai bahan praktis dan berguna yang harus dihargai sebagai sumber daya, tidak dibuang sebagai limbah. Plastik sekali pakai harus dikurangi dan didaur ulang untuk meminimalkan kebutuhan akan plastik baru,” ujar anggota Plastic Collective Australia ini.

Namun ia akui, mengubah pola pikir masyarakat tidaklah mudah.

Perlu proses untuk menanamkan pemahaman agar timbul kesadaran akan lingkungan.

Sebagai solusi, Hardman telah menemukan mesin daur ulang plastik yang mengubah sampah plastik menjadi sumber daya praktis.

Mesin itu ia namakan ‘Shruder’.

“Mesin ini didesain khusus sehingga dapat dengan mudah dibawa ke komunitas terpencil yang terkena dampak polusi plastik. Dengan adanya mesin ini saya harap dapat secara bertahap menghentikan proses masuknya sampah plastik ke laut,” tutur dia.

Selain mengembangkan mesin Shruder, Hardman juga mengembangkan program pelatihan khusus untuk masyarakat yang tinggal di pulau dan terpencil.

Tujuannya tidak lain memberdayakan masyarakat agar dapat mengubah limbah menjadi sumber daya.

Lokakarya ini dihadiri sekitar 50 peserta dari berbagai organisasi non-pemerintah, kelompok masyarakat, dan individu, termasuk penerima Program Bantuan Langsung (DAP) dari Konsulat Jenderal Australia.

Agenda ini menjadi kegiatan terakhir yang diadakan di Bali untuk inisiatif Waste to Wealth, program yang berlangsung selama seminggu yang diselenggarakan oleh Konsulat Jenderal Australia.

Program ini dilanjutkan di Lombok dari tanggal 6 – 7 Juni, termasuk kunjungan ke Selong Selo dan Zona Ekonomi Khusus Mandlika, serta seminar ‘Finding Solutions’ yang akan diadakan di Universitas Mataram.

Inisiatif Waste to Wealth bertujuan untuk mempromosikan praktik pariwisata ramah lingkungan di Bali dan Nusa Tenggara Barat. (*)

Penulis: Ni Putu Diah paramitha ganeshwari
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved