Hari Raya Idul Fitri
Hasil Tangkapan Merosot, Beberapa Nelayan di Kedonganan Memilih Tidak Mudik
Menurutnya, baru tahun ini dirinya tidak pulang untuk merayakan Lebaran bersama keluarga besar.
Penulis: Widyartha Suryawan | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Suasana Pantai Kedonganan, Kuta, Badung tampak agak lengang pada Rabu siang (13/6/2018).
Sementara itu, perahu-perahu milik nelayan berderet di pinggir pantai.
Padahal, siang hari seperti itu biasanya para nelayan sibuk mempersiapkan jaring, membersihkan perahu, dan perlengkapan melaut lainnya.
Kini nelayan yang sebagian besar berasal dari daerah Jawa Timur itu sedang mudik ke kampung halaman.
Tidak begitu halnya dengan Mariono (64).
Pria asal Rowokangkung, Lumajang, ini belum bisa pulang ke kampung halaman karena terbentur biaya.
Hasil tangkapannya belakangan ini diakui menurun drastis.
Menurutnya, baru tahun ini dirinya tidak pulang untuk merayakan Lebaran bersama keluarga besar.
"Angin cukup kencang beberapa hari terakhir, sehingga belum bisa melaut," kata Mariono kepada tribun-bali.com.
Mariono mengatakan istri dan tiga orang anaknya sudah berada di Rowokangkung.
Meskipun demikian, ia tak tampak bersedih.
Mariono mengaku akan tetap melaksanakan ibadah Idul Fitri di Bali.
"Saya enjoy saja, nanti kalau sudah ada biaya baru pulang," imbuhnya.
Tidak hanya Mariono.
Nelayan lainnya yang belum bisa mudik lantaran terbentur biaya adalah Suwarno (60).
Dia mengaku sudah sempat pulang sebelum Bulan Ramadan lalu.
Namun, karena koceknya tidak mencukupi untuk pulang lagi, ia memilih merayakan Idul Fitri di Bali.
"Ada uang sedikit, tapi kalau pulang tidak bisa lancong-lancong. Lebih baik ditunda dulu (mudiknya), karena biaya lancong-lancongnya di kampung cukup banyak," selorohnya sembari tertawa. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/nelayan_20180614_133400.jpg)