Serba Serbi
Kisah Tentang Surga dan Godaan 7 Bidadari dalam Teks Hindu
Setelah Arjuna mendapat kemenangan atas Niwatakawaca ia digambarkan mendapatkan surga dengan tujuh bidadari.
Penulis: Putu Supartika | Editor: Eviera Paramita Sandi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Menurut Staf Pusat Kajian Lontar Universitas Udayana, Putu Eka Guna Yasa, dalam Kakawin Arjuna Wiwaha dikisahkan Bhatara Indra meminta bantuan kepada manusia sakti bernama Arjuna karena ada raksasa bernama Niwatakawaca yang akan menyerang surga.
"Indra takut karena Biwatakawaca menyerang sorga ia takut karena memiliki kesidian yang mampu meruntuhkan penjaga di surga," kata Guna.
Sebelum itu, Arjuna harus diuji terlebih dahulu yaitu digoda dengan bidadari.
Bidadari dalam konteks Bali menurut Guna merupakan penggoda tapa brata agar tapa tidak sukses, dan jika berhasil melewati berbagai macam godaan maka tapa brata dianggap sukses.
Awalnya Arjuna tidak mengetahui kelemahan dari raksasa Niwatakawaca ini.
Dengan bantuan Dewi Supraba, akhirnya diketahuilah kelemahan Niwatakawaca berada di ujung lidahnya.
Oleh karena itu, Niwatakawaca ini bisa dikalahkan oleh Arjuna dengan memanah ujung lidahnya.
Setelah Arjuna mendapat kemenangan atas Niwatakawaca ia digambarkan mendapatkan surga dengan tujuh bidadari.
"Setelah itu memang digambarkan Arjuna dapat surga dan 7 bidadari selama 7 bulan di surga dan 7 hari di dunia nyata," imbuh Guna.
Selain itu, dalam teks Nitisastra menurut Guna, ada disebutkan: Sang sura pejahing rananggana umusiring surapada sinambuting widyadari.
"Ketika seorang pemeberani gugur di medan perang karena membela kebenaran maka akan langsung menuju surganya Wisnu dan dijemput bidadari," jelasnya.
Guna juga mengatakan zaman dulu, untuk menegakkan dharma, seorang ksatria atau raja akan melakukan rana yadnya.
Dimana rana artinya pertempuran dan yadnya korban suci yang tulus ikhlas, sehingga rana yadnya merupakan korban suci tulus ikhlas di medan pertempuran.
Sehingga cudamanik raja yang meninggal di medan perang untuk membela dharma akan dijadikan sebagai bija, darahnya sebagai tirta, dan negara musuh yang hancur dianggap pahoman atau apinya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/arjuna_20180619_082624.jpg)