Made Iron Berhasil Pecahkan Waktu Terbaiknya dalam Kejuaran Renang Internasional di Singapura

Pande Made Iron Digjaya berhasil memecahkan waktu terbaiknya kategori 100 meter gaya dada

Made Iron Berhasil Pecahkan Waktu Terbaiknya dalam Kejuaran Renang Internasional di Singapura
Istimewa
Pande Made Iron Digjaya bersama tim renang Indonesia. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Atlet Renang Bali, Pande Made Iron Digjaya berhasil memecahkan waktu terbaiknya kategori 100 meter gaya dada, di Neo Garden 14th Singapore National Swimming Championships 2018, di OCBC Aquatic Center, Singapore, yang berlangsung tanggal 20-23 Juni 2018.

Iron yang dihubungi Tribun Bali via Whatsapp, Minggu (24/6/2018) mengatakan, dirinya telah selesai melakukan pertandingan Neo Garden 14th Singapore National Swimming Championships 2018.

Pande Made Iron Digjaya di Kolam Renang Tirta Arum, Blahkiuh, Badung, Bali, Selasa (12/6/2018). 
Pande Made Iron Digjaya di Kolam Renang Tirta Arum, Blahkiuh, Badung, Bali, Selasa (12/6/2018).  (Tribun Bali/Putu Dewi Adi Damayanthi)

Walau tidak memperoleh medali di semua kategori yang ia ikuti (50 meter,100 meter, 200 meter gaya dada, dan 400 meter gaya ganti), Iron berhasil memecahkan waktu terbaiknya di kategori 100 meter gaya dada.

“Medali sih enggak, tapi dapat memperbaiki waktu saja di nomor 100 meter gaya dada, sebelumnya 01.05.27 sekarang 01.04.97,” katanya.

Ia mengungkapkan, lawan-lawan yang ia hadapi merupakan atlet renang yang pernah mengikuti pertandingan seperti Sea Games maupun Olympic.

“Lawan-lawannya itu sudah pernah ikut  Sea Games, Asian Games, dan Olympic gitu, ya menurut saya sih itu bisa menambah pengalaman gitu,“ ucapnya.

Ia menambahkan, saat pertandingan pelatih menyuruhnya agar mengikuti gaya renangnya sendiri, ia pun berhasil menuruti perkataan pelatihnya namun ia merasa kurang maksimal di bagian power/kekuatannya.

“Pelatihnya nyuruh ikutin gaya sendiri gitu. Saya berhasil ikutin gaya sendiri, tapi kurang maksimal gitu di bagian powernya,” ujarnya.

Pemuda berkulit sawo matang ini mengatakan, tidak terlalu merasakan tekanan saat pertandingan berlangsung, tekanan ia alami karena ingin memecahkan rekor waktu yang ia miliki.

“Ya kalau itu (tekanan) sih wajar tapi kemarin gak terlalu. Iya juga, tekanannya berasal dari ingin mecahin best timenya,” ucapnya.

Meskipun pulang dengan tangan kosong, Iron tetap merasa senang bisa pergi ke Singapura dan berkumpul bersama teman-temannya dari daerah lain.

“Kesannya, senang bisa ke Singapura, terus bisa waktunya lebih bagus, bisa ngumpul sama teman-teman dari daerah lain,“ ucapnya.

Ia juga merasa mendapatkan pelajaran berharga dari pertandingan tersebut, seperti menjadi lebih disiplin.

“Saya bisa lebih disiplin, terus bisa ketemu lawan yang ikutan Sea Games, Asian Games, sama olimpiade,” pungkasnya.(*)

Penulis: Putu Dewi Adi Damayanthi
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved