Pilgub Bali 2018

Nyoman Subanda Sudah Prediksi Hasil untuk Koster-Ace, Ini Penjelasannya

News Analysis:Mesin PDIP bekerja sendiran, sedangkan lima partai koalisinya yakni Hanura, PAN, PKPI, PKB, dan PPP tak maksimal.

Nyoman Subanda Sudah Prediksi Hasil untuk Koster-Ace, Ini Penjelasannya
Tribun Bali/Ratu Ayu Astri Desiani
Wayan Koster, Calon Gubernur Bali nomor urut 1 bersama keluarga, usai memberikan hak pilihnya di Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula, Buleleng, Rabu (27/6/2018) 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Pengamat Politik Undiknas Denpasar, Nyoman Subanda menilai keunggulan pasangan nomor urut satu, Wayan Koster-Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Koster-Ace) di Pilgub Bali berdasarkan hasil quick count sudah diprediksi sebelumnya.

Bali dikenal sebagai basis tradisional PDIP sejak awal reformasi. Mesin politik pengusung Koster-Ace ini berjalan dengan baik.

Sebutnya, susah mengalahkan PDIP jika mayoritas mesin politik mereka bergerak. Ada beberapa faktor penyebab PDIP memang.

Satu di antaranya, seluruh bupati yang dimiliki oleh PDIP bekerja allout memenangkan Koster-Ace. Sebaliknya, mesin koalisi yang dibangun oleh PDIP tidak bekerja secara optimal.

Mesin PDIP bekerja sendiran, sedangkan lima partai koalisinya yakni Hanura, PAN, PKPI, PKB, dan PPP tak maksimal.

Faktor kedua karena para bakal calon legislatif PDIP bekerja di bawah ancaman tidak akan dicalonkan apabila kalah di dapilnya atau TPS masing-masing.

Baca: Pelatih Lokal Samurai Biru Termotivasi Spirit 2002 Jadi Juara Grup H

Baca: Sempat Ketar-ketir dan Was-was, Timnas Brasil Sukses Amankan Tiket 16 Besar Menantang Meksiko

Baca: BBTF 2018 Jadikan Kekuatan Bali Sebagai Market yang Membuat Dunia Tahu Potensi Indonesia

Ini sangat erat korelasinya karena tahun depan ada pemilihan legislatif. Ini membuat para bacaleg dan kader PDIP bekerja keras memenangkan Koster-Ace, khususnya di dapilnya.

VIDEO Konferensi pers Koster-Ace setelah dinyatakan unggul versi perhitungan cepat SMRC:

Sementara itu, mesin partai yang bergabung dalam Koalisi Rakyat Bali (KRB) yang mengusung paslon Mantra-Kerta tidak bekerja secara optimal.

Selisih suara kedua paslon bisa kecil apabila mesin koalisi itu bekerja optimal. Seandainya semua partai yang ada di KRB bergerak mungkin selisihnya sedikit.

Peran sesepuh PDIP, Anak Agung Ngurah Oka Ratmadi alias Cok Rat, juga sangat kecil dalam mencuri suara dari pemilih PDIP untuk memilih Mantra-Kerta.

Cok Rat merupakan simbol PDIP tradisional, tapi ternyata tidak mampu memobilisasi suara di internal PDIP. (*)

Penulis: Ragil Armando
Editor: Rizki Laelani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved