Breaking News:

Mengenal Asal-usul Desa Budakeling Lewat Kesenian 'Tejaning Jnana Kasogatan'

Sekaa Topeng Panca Klasik Sanggar Seni Citta Wistara menampilkan kesenian dengan judul Tejaning Jnana Kasogatan

Penulis: Putu Supartika | Editor: Irma Budiarti
Tribun Bali/Putu Supartika
Penampilan topeng Panca, Minggu (8/7/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Minggu (8/7/2018) bertempat di Kalangan Ratna Kanda, Art Center Denpasar, Sekaa Topeng Panca Klasik Sanggar Seni Citta Wistara, Dusun Tri Wangsa Budakeling, Karangasem, menampilkan kesenian dengan judul Tejaning Jnana Kasogatan.

Ini memiliki makna aura Buda Kasogatan di Budakeling yang juga menceritakan lahirnya Desa Budakeling.

"Di sana ada sejarah kehadiran Dang Hyang Astapaka anak dari Dang Hyang Natha Angsoka yang berasal dari Wonakeling, Jawa Timur, saudara sepupu Dhang Hyang Dwijendra," kata pembina tata naskah Ida Nyoman Sugata.

Dang Hyang Dwijendra mendahului datang ke Bali saat Majapahit hancur, dan menjadi bhagawanta di Kerajaan Gelgel Klungkung.

Raja Gelgel melaksanakan karya homa dan harus dipuput oleh Pedanda Siwa Buda.

Dang Hyang Dwijendra meminta sepupunya Dang Hyang Natha Angsoka datang, tetapi karena sudah uzur maka diutuslah putranya yaitu Mpu Katrangan atau Dang Hyang Astapaka, yang memiliki ilmu astapaka untuk mendampingi pamannya.

"Di Kerajaan Gelgel, Dang Hyang Astapaka dicurigai mungkin karena penampilannya dan tidak percaya kalau beliau sakti dan diujilah oleh Raja Klungkung. Disuruhlah membuat sumur besar di tempat sidang dan di dalamnya ada angsa. Ternyata bisa dan ada suara di dalam sumur. Ketika ditanya oleh raja itu suara apa, dikatakanlah itu suara naga," katanya.

Seisi sidang tertawa mendengar jawaban Dang Hyang Astapaka.

Ketika tutup sumur dibuka ternyata benar itu adalah naga yang membuat raja takut.

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved