30 Karya Muhlis Angkat Degradasi Moral di Bentara Budaya Bali

Dalam karya grafis hitam putih bertajuk "Pembangkang" akan terlihat kepala manusia dengan mimik kecut sambil menjulurkan lidah.

30 Karya Muhlis Angkat Degradasi Moral di Bentara Budaya Bali
Tribun Bali/I Putu Supartika
Pameran seni grafis karya Muhlis Lugis di Bentara Budaya Bali, Sabtu (14/7/2018). Pameran ini berlangsung hingga 23 Juli 2018 mendatang. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dalam karya grafis hitam putih bertajuk "Pembangkang" akan terlihat kepala manusia dengan mimik kecut sambil menjulurkan lidah.

Dua tangan menopang kepala tersebut, dimana posisi tangan seperti orang merayap. Karya tersebut merupakan salah satu dari 30 karya grafis karya Muhlis Lugis, seorang perupa asal Makassar yang juga pemenang ketiga Trienal Seni Grafis V tahun 2015 yang diadakan oleh Bentara Budaya.

"Ini sangat berharga bagi saya yang awalnya tidak pernah diprediksi. Niatnya hanya ingin jadi finalis, tapi ternyata lebih dari apa yang saya bayangkan dan saya dipercayakan jadi pemenang ketiga Trienal Seni Grafis V," kata Muhlis ketika pembukaan pameran tunggalnya yang bertajuk "Kemana Harga Diri" di Bentara Budaya Bali, Sabtu (14/7/2018) petang.

30 karya grafisnya yang dibuat dengan teknik cukil kayu ini dipamerkan hingga tanggal 23 Juli 2018 mendatang.

Dalam karya-karyanya tersebut, ia berangkat dari budaya Bugis dengan isu degradasi moral.

Menurutnya ini adalah tantangan berat, mengingat saat ini kondosi seni grafis agak sedikit terpinggirkan ketimbang seni yang lebih modern.

Namun saat seni ini hadir di dalam dirinya, ia merasa semangat itu masih ada untuk tetap berkarya. "Saya baru mengenal teknik ini tahun 2012 ketika di Jogja. Hingga kini masih saya lakoni," katanya.

Muhlis menceritakan, bagaimana karyanya yang bertajuk "Addiction" memperoleh juara ketiga dalam Trienal Seni Grafis V.

Dimulai dari kebiasaannya membawa HP lebih dari satu dan ketika berada di Seul, Korea, temannya menegur, "kamu orang kaya ya." Sehingga dari hasil perenungan tersebut lahirlah karya "Addiction."

Pameran tunggal Muhlis ini dibuka oleh perupa Nyoman Erawan dengan menampilkan pertunjukan seni bertajuk Woodcut Experimental yang berkolaborasi dengan Muhlis.

Pertunjukan ini, menurut Erawan menceritakan sebuah proses pembuatan seni garfis yang eksperimental. Bor listrik, kapak, gergaji ia gerakkan di atas sebidang triplek secara acak dan bergiliran.

Ketika dirinya merasa cukup, Muhlis mengoleskan tinta hitam di atas triplek tersebut secara merata yang kemudian di cetak di atas canvas. Hasilnya, tampak sebuah wajah manusia mendelik dengan mulut menganga.

"Muhlis tidak hanya penggrafis yang terampil, melainkan antara otak kanan dan kirinya juga seimbang. Bukan hanya hasil estesis semata, tapi memberikan konten-konten atau sebuah pemikiran yang bisa dilihat dari gagasannya tentang kritik sosial dan kemanusiaan," kata Erawan.

Erawan juga menganggap Muhlis kembali ke habitat asli cukil kayu yang memang menggunakan kayu sebagai medianya.

Karena selama ini yang berkembang khususnya di Bali, seniman cukil banyak menggunakan hardboard atau hasil produk jadi pemadatan dari serbuk kayu.

Seni cukil ini juga merupakan seni grafis kuno atau konvensional yang awalnya diperkenalkan di Tiongkok ketika Tiongkok menemukan media kertas yang kemudian berkembang ke Jepang dan Eropa.

Sehingga untuk membuatnya diperlukan konsentrasi tinggi.

"Saya kira Muhlis adalah seorang yang punya daya tahan atau kemampuan meditatif yang luar biasa. Tidak mudah untuk bertahan dalam membuat detail, apalagi ukuran karya lebih dari 1 meter. Ini memerlukan waktu dan tenaga yang luar biasa," imbuh Erawan.

Koordinator Bentara Budaya Bali, Warih Wisatsana mengatakan karya-karya Muhlis mengandung nada ironi kelam dan mendalam.

"Muhlis mampu mengangkat nada ironi kelam mendalam dan mengandung makna esensial yang diekspos dengan baik," kata Warih.

Sementara itu, mengutip pengantar Juri Trienal, Devy Ferdianto dalam katalog pameran, Muhlis lewat karya-karyanya yang dominan hitam putih, seakan dengan sangat kuat mengubah cermin bagi semua orang untuk menyadari betapa maraknya degradasi moral terjadi dalam kehidupan ini.

"Bisa jadi budaya Siri (budaya malu dalam falsafah hidup orang Bugis) ini juga yang membuat Muhlis berkarya total dalam mengungkap kritik sosial dalam karya-karyanya," tulis Devy Ferdianto.

Lebih lanjut Devy mengungkapkan pada karya seri manusia berkepala tangan, semua orang diajak untuk mengarungi alam fantasi yang meski absurd namun memberi ruang apresiasi bagi pengamat untuk masuk lebih jauh ke dalam gagasan visual Muhlis. (*)

Penulis: Putu Supartika
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved