Liputan Khusus

Sampah Plastik Bom Waktu Pariwisata Bali, 12 Juta Pcs Plastik dari Ritel dan Toko Modern

Persoalan sampah plastik sudah menjadi hal yang tak asing lagi dan sering menjadi pembahasan bagi pemerintah dan masyarakat Bali.

Sampah Plastik Bom Waktu Pariwisata Bali, 12 Juta Pcs Plastik dari Ritel dan Toko Modern
Tribun Bali/Hisyam Mudin
(Ilustrasi) pantai Kedongan tampak dibanjiri sampah plastik, pada Minggu (24/12/2017) lalu. 

Di pantai-pantai tersebut ternyata sudah tercemar sampah plastik baik yang datang dari kiriman, maupun dari sungai-sungai di Bali.

Hendrawan melakukan penelitian di kawasan pesisir Pantai Kuta pada 2014 silam selama satu setengah tahun. Penelitian dilakukan pukul 05.00 Wita saat kawasan Kuta masih gelap. Truk-truk pengangkut sampah belum berdatangan. Petugas kebersihan pun belum bekerja.

"Waktu itu saya sengaja nyari waktu sebelum siang agar tidak bias. Kalau sudah siang sampahnya sudah dibersihkan," tutur Hendrawan.

Hendrawan mengungkap bahwa dari seluruh sampah pantai yang kerap muncul di Pantai Kuta, 70 persen merupakan sampah plastik.

Kendati pemerintah di Bali selalu menyebut sampah di Pantai Kuta merupakan sampah kiriman dari Jawa, namun ia yakin betul Bali juga berkontribusi besar terhadap sampah-sampah pantai tersebut.

"80 Persen sampah di Kuta datangnya dari daratan dan mengalir lewat sungai-sungai di Bali. Dari total sampah di Pantai Kuta, 70 persennya sampah plastik," beber dosen Ilmu Kelautan di Universitas Udayana ini kepada Tribun Bali.

Penelitian yang ia lakukan pertama pada periode bulan Desember, Januari, dan Februari atau pada saat musim penghujan. Periode kedua, pada saat musim kemarau.

Pada musim penghujan memang merupakan puncak sampah di Pantai Kuta. Ahli arus samudra dan ekosistem laut ini mengungkap bahwa memang pada saat bulan-bulan tersebut merupakan musim perubahan angin barat yang menjadikan Pantai Kuta sebagai daerah konvergensi atau pusat muara bagi sampah-sampah yang melintas di Selat Bali.

"Jadi kami punya kajian model, bagaimana kemudian sampah itu bisa sampai di Pantai Kuta. Memang pola arus ketika bulan Desember-Februari memungkinkan sangat besar sampah itu harus di Pantai Kuta. Tidak bisa kita tolak pergerakan arusnya," kata pria 39 tahun ini.

Belum puas dengan survei yang ia lakukan pada periode Desember, Januari, dan Februari, Hendrawan pun mencoba mensurvei Pantai Kuta di luar bulan tersebut. Hasilnya tak jauh berbeda; sampah seperti botol-botol plastik masih banyak terlihat!

"Kami sempat survei bulan Juni, Juli, Agustus banyak juga di sana ada sampah plastik. Artinya prilaku wisatawan, prilaku domestik atau internasional mungkin masih kurang," terang Hendrawan.

Hasil penelitian di Pantai Kuta pada 2016, jumlah sampah plastik yang terdapat di Pantai Kuta belum bisa dihitung dari segi volume, namun Hendrawan menghitungnya berdasarkan jumlah pcs per meter persegi. Hasil penelitian Hendrawan menyimpulkan bahwa jumlah sampah plastik di Pantai Kuta sebanyak 0,5 sampai 1,5 pcs per meter persegi.

Persoalan sampah yang bertebaran di laut bukan hanya terjadi di Pantai Kuta. Dari hasil penelitiannya, Hendrawan mengungkap bahwa di sepanjang garis pantai Badung, Jembrana, Gilimanuk, dan Singaraja juga terdapat sampah.

"Bukan hanya pada saat musim barat, tapi di luar itu juga sangat banyak. Singaraja, Buleleng, banyak. Ketika kami survei banyak orang buang sampah di laut. Itu memprihatinkan kita yang katanya punya ajaran Tri Hita Karana. Konsep itu ada tapi belum mampu melaksanakan," kata Hendrawan.

Penghasil Sampah Plastik

Di antara daerah-daerah di Bali, Denpasar rupanya menjadi penghasil sampah plastik cukup besar. Berdasarkan data dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Denpasar, jumlah sampah plastik yang dikeluarkan seluruh ritel, dan toko modern, serta swalayan yang ada di Denpasar saja jumlahnya sudah 1 juta pcs per bulan, atau 12 juta pcs per tahun.

"Itu belum termasuk pasar tradisional, belum termasuk rumah tangga. Kalau jumlah riilnya pastinya lebih dari itu. Kami cuma mendata dari ritel, toko modern, dan swalayan saja," kata Sekretaris DLHK Denpasar, IB Putra Arimbawa, saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu pekan lalu.

Dengan banyaknya sampah plastik yang keluar dari pusat perbelanjaan, dan ratusan ritel di Denpasar itu, kini DLHK Denpasar telah menjalankan program pengurangan sampah plastik dengan cara mengajak seluruh pihak ketiga atau pemilik ritel, dan toko modern di Denpasar untuk meminimalisir penggunaan sampah plastik.

"Beberapa perusahaan memang positif dia untuk mendukung program ini. Tgl 20 ini kami akan memperingati hari Lingkungan Hidup, saat itu kami akan menerima pemberian dana CSR. Itu kami akan edarkan kembali ke masyarakat," kata Arimbawa.

Untuk diketahui, pada 2016, hingga 2017 silam, Kementerian Lingkungan Hidup juga sempat menerapkan aturan kantong plastik berbayar. Hanya saja, program itu hingga kini belum jelas. Terkait hal tersebut Arimbawa tetap optimistis. "Kami akan terus sosialiasasikan ke masyarakat agar program ini berhasil.

Nantinya, di Denpasar bakal diterapkan wisata belanja tanpa kantong plastik. DLHK Denpasar bakal mengajak seluruh ritel dan pusat-pusat perbelanjaan di Denpasar agar tidak menggunakan keresek untuk barang bawaan pembeli. (zan/win)

Saksikan selengkapnya di bawah ini : 

Penulis: Fauzan Al Jundi
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved