Penampilan Sekaa Eka Budaya Bawakan Tari Gandrung yang Eksis Sejak Tahun 1928
Pementasan tari Gandrang yang ditampilkan oleh Sekaa Eka Budaya, Banjar Ketapian Kelod
Penulis: I Kadek Supriadi | Editor: Irma Budiarti
Laporan Wartawan Tribun Bali I Kadek Supriadi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Pementasan tari Gandrung yang ditampilkan oleh Sekaa Eka Budaya, Banjar Ketapian Kelod, Kelurahan Sumerta, Duta Kota Denpasar.
Bertempat di Kalangan Angsoka, Art Center Denpasar, Bali, Kamis (19/7/2018), menampilkan empat tarian dan tabuh kreasi.
Tari dan tabuh tersebut yaitu Tabuh Saron, Tari Legong Surya Kanta, Tari Telek, dan Tari Gandrung, dengan diiringi alat musik atau gambelan yang terbuat dari bambu.
Menurut Made Satria Dwi Arta, kesenian Gandrung telah ada sejak tahun 1928.
"Sudah ada di Banjar Ketapian Krlod sejak tahun 1928, dibuktikan dengan gambelan dan video yang diabadikan wisatawan asing pada saat itu," katanya.
Sebelum melakukan pementasan, pihaknya menggelar beberapa ritual, baik saat sebelum pentas seperti sembahyang di Pura Peti Tenget, dan di dugul (tugu tempat persembahan) yang berada di belakang panggung.
"Pementasan ini di garap sekitar kurang lebih selama dua bulan, dengan melibatkan sekitar 70 orang dari penari beserta penabuh," pungkasnya.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/seorang-penari-telek_20180719_144111.jpg)