Warga Protes Akses Jalan Nelayan Ditutup, Lurah Serangan: Kalau Tidak Dibuka, Mereka Akan Demo

Tidak hanya pintu masuk utama sebagai akses jalan menuju pantai dua maupun pantai tiga Serangan yang ditutup.

Warga Protes Akses Jalan Nelayan Ditutup, Lurah Serangan: Kalau Tidak Dibuka, Mereka Akan Demo
Tribun Bali/Hisyam Mudin
Akses jalan para nelayan melalui pintu masuk di pantai Melasti, Serangan ditutup oleh BTID, Sabtu (21/7/2018). Warga protes penutupan ini. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Tidak hanya pintu masuk utama sebagai akses jalan menuju pantai dua maupun pantai tiga Serangan yang ditutup.

Akses jalan para nelayan melalui pintu masuk di Pantai Melasti, Serangan, juga ditutup oleh PT Bali Turtle Island Development (BTID). Para nelayan pun dikabarkan akan melakukan aksi protes terhadap kebijakan tersebut.

Pantauan Tribun Bali, di depan pintu lokasi Pantai Melasti, Serangan, tampak sebuah pengumuman yang isinya akses jalan tersebut ditutup untuk umum. Pintu tersebut juga terlihat sudah digembok.

"Persiapan pembangunan kawasan pariwisata Serangan, untuk sementara kawasan PT. BTID ditutup untuk umum," demikian pesan permakluman dari pihak BTID.

Lurah Serangan, Wayan Karma, mengatakan sikap BTID menutup akses jalan melalui Pantai Melasti ini memantik reaksi masyarakat.

"Banyak warga tidak bisa menahan diri. Kalau tidak dibuka, mereka akan demo. Begitu pengakuan masyarakat. Saya tidak menginginkan hal ini terjadi, sekarang kami masih terus koordinasi dengan BTID," kata Karma, Sabtu (21/7) kemarin.

Rencana masyarakat akan melakukan aksi demo ini disampaikan langsung di hadapan pihak BTID saat rapat pertemaun terkait pemindahan perahu nelayan di Pantai Lagon, Serangan, Rabu (18/7) lalu.

"Keluhan masyarakat ini langsung ke saya dan di hadapan pihak BTID, tapi saya tidak mengizinkan itu terjadi," katanya.

Pintu masuk melalui Pantai Melasti ini merupakan akses jalan masyarakat setempat, khususnya para nelayan yang mencari hasil laut dengan berjalan kaki.

"Ini akses jalan para nelayan yang mencari ikan, kepiting dan hasil laut di pantai. Masalahnya ini mereka (masyarakat) hanya jalan kaki, tidak bawa motor. Kalau lewat di sana (pintu utama) jauh," katanya.

Halaman
1234
Penulis: Hisyam Mudin
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved