Ketua Komisi IV DPRD Bawa Cabai 'Penyakitan' Saat Rapat, Guberneur Anggap Fakultas Pertanian Gagal

"Cabai petani mati berdiri dengan kondisi berbuah, tapi tidak ada yang memberi solusi dan mendampingi mereka,”

Ketua Komisi IV DPRD Bawa Cabai 'Penyakitan' Saat Rapat, Guberneur Anggap Fakultas Pertanian Gagal
Istimewa
Gubernur Bali Made Mangku Pastikasaat di Lapangan Niti Mandala, Renon, Minggu (11/3/2018). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Pemprov Bali dan DPRD Bali menggelar rapat kerja gabungan dengan agenda membahas Raperda tentang pertanggung jawaban pelaksanaan APBD tahun 2017, Senin (23/7/2018).

Namun, ada hal unik ketika jajaran Pemprov Bali dan DPRD Bali menggelar rapat kerja gabungan.

Ketua Komisi IV DPRD Bali, I Nyoman Parta, membawa pohon cabai yang berbuah lebat namun dalam kondisi layu dan setengah mati.

Baca: Abadikan Blood Moon Terlama Abad Ini, Cobalah 5 Tips Memotret Gerhana ala Fotografer Profesional

Baca: Peneliti LAPAN Mencatat Ada Empat Keistimewaan Saat Blood Moon Pada 28 Juli Ini

Baca: Gerhana Bulan Akhir Pekan Ini Akan Berlangsung 103 Menit, Menjadi yang Terpanjang Selama Abad 21

Cabai “penyakitan” itu diperlihatkan kepada Gubernur Bali, I Made Mangku Pastika.

Ketika rapat yang digelar di Ruang Rapat Gabungan Kantor DPRD Provinsi Bali itu baru saja dibuka oleh Ketua DPRD Bali, I Nyoman Adi Wiryatama, Parta langsung melakukan interupsi.

Ia melaporkan kepada Gubernur Bali bahwa kebun cabai di Subak Buluh Desa Guwang, Kecamatan Sukawati, Gianyar, layu dan mati karena berpenyakitan.

“Kalau persoalan sosial, saya mengerti mencari solusinya, tetapi ini lebih ke persoalan teknis. Cabai petani mati berdiri dengan kondisi berbuah, tapi tidak ada yang memberi solusi dan mendampingi mereka,” kata Parta dengan nada agak tinggi.

Gubernur Pastika pun ‘merespon’ permasalahan yang disampaikan Parta.

Pastika menyebut permasalahan tersebut merupakan tantangan bagi ahli-ahli pertanian di Bali.

Di sisi lain, gubernur dua periode ini juga sempat berujar agar Fakultas Pertanian ditutup karena dianggap gagal atasi persoalan ini.

“Di Bali ada lebih dari 100 doktor dan 50 proffesor pertanian, tetapi kita tetap tidak mampu menangani masalah penyakit cabai, penyakit jeruk dan penyakit pisang,” ujar Pastika pada rapat kerja tersebut. (*)

Penulis: Wema Satya Dinata
Editor: Rizki Laelani
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved