Liputan Khusus

Harta Habis Akibat Anak Pecandu Narkoba, Dulu Pengusaha Kaya Kini Tinggal di Rumah Kontrakan

Mempunyai dua anak yang kecanduan narkoba membuat hidup Dika Rejonta (70) benar-benar berubah 180 derajat

Harta Habis Akibat Anak Pecandu Narkoba, Dulu Pengusaha Kaya Kini Tinggal di Rumah Kontrakan
tribun bali/I Wayan Erwin Widyaswara
Dika Rejonta saat ditemui di Denpasar, Senin (23/7/2018). Dika kehilangan anak dan harta gara-gara narkoba. 

Kedua usaha yang dikelola Donnie bangkrut karena setiap modal yang diberikan kerap dibelikan narkoba untuk pesta bersama teman-temannya.

“Mobil-mobil semua habis. Digadaikan. Misalnya waktu harga mobil Rp 40 juta, digadaikan Rp 30 juta. Terus waktu kelola usaha beras, saya suruh beli beras Rp 10 kuintal misalnya, dia belikan cuma 3 kuintal, sisanya dipakai beli obat (narkoba),” tutur Dika.

Suatu saat, Dika mendapatkan kabar bahwa anak keduanya, Astrid yang waktu itu masih sekolah di Melbourne masuk rumah sakit karena over dosis.

Perasaan Dika pun semakin tak karuan, karena masalah bertubi-tubi datang.

Dika kemudian memutuskan menengok anaknya ke Melbourne.

Hingga akhirnya Astrid pun kembali diajak ke Bali.

Downie dan Astrid kembali dibawa ke tempat rehabilitasi narkoba di Yayasan Peduli Keluarga yang dibantu oleh Gubernur Bali kala itu.

Kegiatan di yayasan tersebut telah dilalui, namun yang namanya narkoba ternyata bukan perkara mudah.

Meski telah direhabilitasi, namun Dika kembali merasakan ada yang aneh.

Barang-barangnya di rumah satu persatu ludes, mulai dari tabung gas, televisi, tape, lemari, dan seluruh koleksi lukisannya dijual oleh anak-anaknya untuk membeli narkoba.

Mereka ternyata masih kecanduan berat.

“Yang saya heran, lemari tiga pintu itu bisa dikeluarkan dan dijual ke tetangga,” terang Dika.

Dika kemudian mengajak kedua anaknya ke berbagai yayasan, namun tetap tak mempan untuk menyembuhkan anaknya kala itu.

Dari 1994 sampai 2011, kedua anaknya masih menjadi pemakai narkoba.

Harta kekayaan Dika perlahan mulai habis, Donnie anak pertamanya yang kerap bermain judi dan mentraktir teman-temannya pesta narkoba ternyata banyak memiliki utang di sana sini.

“Waktu itu, terpaksa saya jual rumah saya di Jalan Wijaya Kusuma, Denpasar. Rumah saya besar di sana. Parkirnya saja 5 are, waktu itu karena kepepet saya jual saja seharga Rp 1 miliar. Karena semuanya memang sudah habis untuk biaya sekolah, perawatan, dan rehabilitasi anak saya,” tutur Dika.

Tahun 2011, anak sulungnya tiba-tiba jatuh sakit dan akhirnya meninggal.

Waktu itu, Donnie yang sudah dalam keadaan koma masih bisa meminta obat, namun Dika tidak memberikan.

Setelah Donnie meninggal, dua bulan kemudian giliran anak keduanya yang sakit dan dirawat di rumah sakit selama setahun.

Lepas dari rumah sakit pun Astrid mesti dirawat di rumahnya yang cuma tempat kontrakan karena rumahnya telah dijual.

“Selama sembilan bulan saya rawat di rumah. Oksigen yang besar itu dia pakek sehari dua. Akhirnya ada teman memberi saran, sudahlah, kembali ke vitamin C saja. Akhirnya saya coba berikan buah-buahan, jus, dan lainnya. Waktu itu berat badan anak saya sudah turun drastis, dari 70 ke 30 kg, tapi untungnya Tuhan masih memberikannya kesempatan sampai sekarang,” tutur pria murah senyum ini.

Dika menceritakan bahwa anak pertamanya terjerat narkoba bukanlah karena pergaulan yang kurang baik.

Waktu itu, sekitar tahun 1990-an, Dika bisa dibilang pengusaha yang kaya raya, sehingga menjadi incaran para bandar narkoba.

Akhirnya ada seorang menyusup dengan modus menjadi sopir pribadi ke rumah Dika di Jalan Wijaya Kusuma terdahulu.

“Sopir itulah ternyata awal dari kesengsaraan kami. Dia yang ngasih obat, lama-lama kan kecanduan. Ini sopir pribadi keluarga kami. Kalau anak keduanya sudah setir sendiri-sendiri,” katanya.

Dengan pengalaman pahit yang dialaminya, Dika berharap kepada siapa saja agar tidak sampai menggunakan narkoba.

Kepada para orangtua, Dika berpesan agar memperhatikan betul tingkah polah anaknya, agar tidak sampai terjerat ke dunia kelam itu.

“Saya harapkan, orangtua benar-benar mendidik, menjaga anaknya supaya tidak pernah ketemu dengan narkoba. Kalau perlu mulai dari rokok, minum, kemudian narkoba. Itu efeknya luar biasa, hancur-hancuran, semua habis. Kami sekarang benar-benar hidup dari belas kasihan orang. Karena semua habis punya kami,” pungkas Dika.

Sedangkan Astrid Adriana yang ditemani orangtuanya berpesan agar para orangtua yang memiliki anak pecandu narkoba untuk benar-benar melakukan pendekatan belas kasih.

“Jangan sampai memarahi, buat dia nyaman bersama kita dulu. Dengan begitu pelan-pelan akan mau direhabilitasi dengan sendirinya. Kalau dikerasi justru semakin menjadi. Karena pecandu itu keadaan yang membuat dia begitu, sebetulnya mereka tidak ingin, mereka hanya korban dari kecanduan,” tutur Astrid. (*)

Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved