Angka Kematian di Bali Akibat Kanker Meningkat, Kadinkes Bali: Polusi Udara Turut Jadi Penyebab

Angka kematian karena kanker di Bali menempati peringkat kedua setelah penyakit kardiovaskuler.

Angka Kematian di Bali Akibat Kanker Meningkat, Kadinkes Bali: Polusi Udara Turut Jadi Penyebab
kolase/rizki laelani
Mau Tahu Kualitas Udara Denpasar Versi Greenpeace Indonesia Hasilnya Tak Jauh dari 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dinas Kesehatan Provinsi Bali mencatat, angka kematian karena kanker di Bali menempati peringkat kedua setelah penyakit kardiovaskuler.

Tingginya penderita kanker ini ternyata juga dapat dipicu oleh kondisi kualitas udara di sekitarnya.

Sementara, jika merujuk dari data yang dihimpun dari aplikasi alat pengukur kualitas udara, Air Visual menyebutkan, Denpasar menjadi satu dari dua kota yang menempati urutan teratas dengan tingkat polusi udara terburuk di dunia bersama Jakarta.

Berdasarkan pantauan Tribun Bali melalui aplikasi air visual tersebut, Denpasar dan Jakarta tak lekas beranjak menjauh dari urutan 10 rangking teratas.

Baca: Kepala DLHK Kota Denpasar Protes dan Pertanyakan Data Greenpeace Soal Kualitas Udara yang Buruk

Baca: Cerita TKI di Korsel yang Hidup Mewah Hingga Bisa Mudik Bawa Rp 800 Juta, Tapi Susah Move-on

Terakhir, Denpasar berada di urutan ke-4 setelah Santiago, Chile dan Dubai, Saudi Arabia. Sementara, Jakarta berada di urutan teratas.

Pengaruh kualitas udara terhadap kesehatan ini juga diakui Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dr Ketut Suarjaya.

Ia mengatakan, penyebab meningkatnya angka kasus penyakit kanker di Bali juga berasal dari polusi udara.

"Angka kasus kanker di Bali terus mengalami peningkatan signifikan tiap tahunnya. Faktor penyebabnya ada banyak mulai dari polusi udara, asap rokok dan kendaraan juga punya peran," ungkapnya saat dikonfirmasi Tribun Bali, Sabtu (28/7/2018).

Dijelaskan dia, kualitas udara berpengaruh terhadap saluran pernafasan tubuh.

Jika hal ini terus berulang dalam jangka waktu yang panjang, maka dapat mempengaruhi kualitas kesehatan paru-paru dan memicu kanker.

Ia berharap, agar pemerintah bisa memberikan atensi penuh terhadap hal ini.

"Seperti program Bali Clean and Green saya harap tidak hanya sekadar wacana. Juga harus ada kerjasama aktif dengan masyarakat seperti penanaman pohon demi menjaga kuakitas udara kita bersama," tutupnya. (*)

Penulis: eurazmy
Editor: Rizki Laelani
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved