Bali Paradise
Aroma Kayu Api Tak Terganti, Suksma Coffee Pertahankan Teknik Sangrai Tradisional
Ketika proses roasting modern kian digemari karena menawarkan kepraktisan, Suksma Coffee justru tetap mempertahankan sangrai tradisional
Penulis: Ni Putu Diah paramitha ganeshwari | Editor: Irma Budiarti
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Ketika proses roasting modern kian digemari karena menawarkan kepraktisan, Suksma Coffee justru tetap ingin mempertahankan teknik sangrai tradisional.
Menyangrai kopi secara manual dilakukan dengan memanaskan biji-biji kopi di atas penggorengan tanpa dibubuhi minyak.
Seseorang harus stand by mengaduk-aduk biji kopi itu, agar jangan sampai bagian bawah saja yang matang.
Proses pemanasan ini dilakukan hingga biji kopi berwarna kecokelatan.
Biasanya proses sangrai ini dilakukan di atas tungku kayu bakar.
Menurut pemilik Suksma Coffee, Made Putra, kayu bakar inilah yang akan membuat kopi semakin nikmat.
Aroma kayu bakar akan menempel pada biji kopi dan tetap terasa ketika biji kopi sudah diseduh menjadi minuman.
Inilah yang membuatnya merasa jika harus tetap mempertahankan teknik warisan tempo dulu itu.
“Bagi saya kopi Bali memang paling baik jika di-roasting manual. Cita rasaya berbeda, nikmat dan aromanya lebih harum,” ucap lelaki yang sering disapa Made ini.
Untuk mendapatkan kopi Bali yang benar-benar disangrai manual, Made mengambil stok dari Karangasem.
Di kampung halamannya itu, masih terdapat beberapa rumah yang bisa me-roasting kopi secara manual.
“Sejak kuliah, saya memang suka kopi. Setiap kumpul bareng teman, pasti diisi dengan acara ngopi. Selain rasanya yang pahit-pahit nikmat, suasana kebersamaan yang terbentuk karena kopi jugalah yang membuat saya semakin menggemarinya,” tutur enterpreneur muda ini.
Meskipun menyukai kopi Bali tradisional, bukan berarti Made hanya menjual satu produk saja.
Ia pun menjual kopi dari luar, di antaranya Papua, Toraja, Sidi Kalang, dan Gayo.
Jenis bijinya pun beragam varian, ada Arabika dan Robusta.
Kopi-kopi ini dapat diseduh secara single origin ataupun blend.

Tekniknya pun ada yang menggunakan mesin espresso dan manual brewed.
“Saking sukanya pada kopi, saya dulu berniat haya menjual kopi saja. Namun atas saran dari ibu, saya tidak bisa hanya menjual kopi. Harus ada minuman lain, snack, serta makanan berat. Saran itu saya turuti, karena sadar jika tidak semua orang datang ke coffee shop hanya untuk ngopi. Barangkali juga mereka kumpul-kumpul sambil ngobrol. Di antara kelompok orang itu, pasti ada saja yang tidak begitu bisa meminum kopi,” jelas Made.
Menu-menu coffee shop yang ada di Jalan Nangka Utara No 317 Denpasar ini pun tampil beragam.
Selain kopi, mereka juga menawarkan frappe, milkshake, mocktail, infus water, teh, dan squash.
Sebagai pemanis, pengunjung juga bisa menambahkan ekstra es krim ataupu bubble dalam minuman.
Suksma Coffee juga menyajikan camilan untuk menambah ramai meja makan.

Ada pisang goreng, pancake, kentang goreng, roti bakar, yang bisa ditambahkan beragam toping dan rasa.

Jika pengunjung lebih suka camilan yang sifatnya garing, cobalah tempura sosis, callamary ring, atau jamur crispy yang asyik krenyesnya.
Beberapa menu spesial pun menjadi andalan Made Putra dan timnya.
Ceker suksma adalah makanan yang asyik baik sebagai camilan ataupun lauk nasi.
Ceker ini pun dibumbui dengan sambal pedas khas Suksma Coffee.
Sambal pedas ini cukup istimewa.
Rasa pedasnya nendang dan menantang.
Bagi mereka yang menyukai cita rasa pedas rasanya wajib untuk mencoba suguhan ceker ini.
“Ceker Suksma termasuk yang paling banyak dicari pelanggan. Kami juga menjual paket iga babi yang sudah include dengan nasi putih,” kata Made.
Suksma Coffee buka dari pukul empat sore hingga tengah malam.
Suasana malam adalah waktu yang baik untuk menghabiskan waktu bersama teman dan keluarga.
Tidak ada salahnya untuk mampir ke Suksma Coffe untuk menghabiskan saat-saat istimewa.
Musik Akustik Hingga Tanding Bola
Suksma Coffee juga menjadi arena berkumpulnya komunitas.
Mulai dari penggemar musik hingga bolamania sering berkumpul di tempat ini.
Ketika ada big match, baik dari Liga Indonesia maupun liga luar negeri, Suksma Coffee akan menyiapkan layar agar pengunjung bisa menyaksikan pertandingan secara langsung.
“Pertunjukan musik akustik biasanya dilakukan malam minggu, namun tergantung dari penampilnya juga. Kami berusaha untuk memfasilitasi band-band lokal Bali untuk dapat berkarya. Selain panggung kecil, kami juga menyiapkan sound system sederhana,” tutur pemilik Suksma Coffee, Made Putra.
Beberapa komunitas pun kadang menjadikan Suksma Coffee sebagai tempat untuk berkumpul, di antaranya komunitas vespa dan penggemar game online.
Kedai kopi dengan gabungan nuansa garden dan simpel-minimalis ini pun pernah dijadikan sebagai tempat pelaksanaan perlombaan game online.
Selain nuansa taman dan ruang indoor, Suksma Coffee juga memiliki satu ruang rapat privat.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/suksma-coffee_20180728_105115.jpg)