Kepala DLHK Kota Denpasar Protes dan Pertanyakan Data Greenpeace Soal Kualitas Udara yang Buruk

Kok Kabupaten Badung yang sama padat tak ada datanya. Di Denpasar tak ada industri, dari mana datanya kualitas udara jadi buruk.

Kepala DLHK Kota Denpasar Protes dan Pertanyakan Data Greenpeace Soal Kualitas Udara yang Buruk
kolase/rizki laelani
Mau Tahu Kualitas Udara Denpasar Versi Greenpeace Indonesia Hasilnya Tak Jauh dari 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Pihak Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Denpasar protes keras terkait penempatan peringkat Kota Denpasar yang dikeluarkan Greenpeace Indonesia.

Greenpeace Indonesia sebelumnya menempatkan Kota Denpasar di peringkat keempat dalam kualitas udara tidak sehat berdasarkan data air visual.

Pihak DLHK mempertanyakan sumber data atau sampling yang digunakan dalam menentukan kualitas udara.

Pihak DLHK mengklaim, kualitas udara di Denpasar hingga saat ini sudah bagus.

Baca: Mau Tahu Kualitas Udara Denpasar Versi Greenpeace Indonesia? Ternyata Hasilnya Tak Jauh dari Jakarta

Kepala DLHK Kota Denpasar, Ketut Wisada, mengatakan, 30 persen sampai 40 persen, tata ruang di Kota Denpasar sudah hijau.

Baca: Catat Waktunya! PSSI Jual Lebih Murah Tiket Nonton Bali United Kontra Timnas U-23 Indonesia

Baca: FOTO-FOTO: Wistawan dan Anak-anak Kompak Bersih-bersih di Pantai Seminyak Sambil Lepas Tukik

Baca: FOTO-FOTO: Besok Hari Harimau Sedunia, Bali Zoo Kenalkan Tigor, Togar, dan Zora

"Saya ingin tahu sumber data itu apakah sudah pernah melakukan pengukuran atau tidak, yang melakukan pengukuran kualitas hidup di Denpasar itu sebenarnya dari Kementerian Lingkungan Hidup Pusat," katanya saat dikonfirmasi Tribun Bali, Sabtu (28/7/2018) kemarin.

Wisada mengaku Kota Denpasar memang tidak memiliki alat ukur kualitas udara.

Menurutnya, untuk mengukur kualitas udara di Denpasar itu langsung dilakukan oleh pihak dari Kementrian Lingkungan Hidup Pusat.

"Biasanya pengukuran itu dari pusat, makanya saya ingin konfirmasi data tersebut didapatkan darimana, apakah sudah pernah diukur atau tidak," ujarnya mempertanyakan lagi.

Wisada mengatakan, kualitas udara itu setiap menit pasti berubah. "Dikeluarkan darimana datanya pun setiap menit pasti berubah, sedangkan logikanya di Denpasar kan tidak ada industri sehingga perlu dipertanyakan."

"Datanya itu real time, tapi saya masih heran, kok bisa nomor empat, saya tidak bicara kota lain, di Denpasar dan Badung misalkan padat penduduknya sama. Tapi kok Denpasar yang peringkat keempat," ujarnya. (*)

Penulis: Hisyam Mudin
Editor: Rizki Laelani
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved