Separuh Gaji Dibawa Lari Orang, Begini Kisah Pilu Yatim Wanita Pemulung di Kuta

Sabtu (28/7/2018), Tribun Bali mengunjungi tempat para pemulung yang tinggal di sekitaran Jalan Dewi Sri Legian, Kuta, Badung.

Separuh Gaji Dibawa Lari Orang, Begini Kisah Pilu Yatim Wanita Pemulung di Kuta
Tribun Bali/Rino Gale
Terlihat di depan teras kos, pemulung seorang wanita bernama Yatim (60) sedang memilah botol-botol plastik dari karung besar yang ia dapat di sepanjang jalan Dewi Seri Legian, Sabtu (28/7/2018). 

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Sabtu (28/7/2018), Tribun Bali mengunjungi tempat para pemulung yang tinggal di sekitaran Jalan Dewi Sri Legian, Kuta, Badung.

Saat berkunjung, Tribun Bali menemui seoarang wanita dengan memakai pakaian oblong yang terlihat sibuk memilah botol-botol plastik bekas dari karung besar.

Panggil saja namanya dengan sebutan Yatim (60), wanita asal Bondowoso, Jawa Timur.

Terlihat di depan teras kos, pemulung seorang wanita bernama Yatim (60) sedang memilah botol-botol plastik dari karung besar yang ia dapat di sepanjang jalan Dewi Seri Legian, Sabtu (28/7/2018).
Terlihat di depan teras kos, pemulung seorang wanita bernama Yatim (60) sedang memilah botol-botol plastik dari karung besar yang ia dapat di sepanjang jalan Dewi Seri Legian, Sabtu (28/7/2018). (Tribun Bali/Rino Gale)

Ia mengaku sudah melakoni profesi sebagai pemulung di Bali selama 23 tahun lamanya.

Dengan penghasilan yang sangat minim, ia mampu bertahan hidup sebagai pemulung.

Botol plastik, kaleng plastik, botol beling, dan kardus terlihat tertumpuk di dalam kamar maupun teras kos.

Dengan giat, ia bangun subuh dari kamar kos yang hanya beralaskan lantai tanah, sampai pulang sore dengan menghasilkan satu karung besar yang berisikan botol-botol plastik.

Botol-botol plastik itu dikumpulkannya selama 15 hari di dalam gudang depan teras kos dan kemudian disetorkan kepada pengepul dengan harga Rp 500 ribu.

Gelas plastik per kilonya Rp 2.500, botol plastik 600 ml per kilonya Rp 2 ribu, botol kaleng per kilonya Rp 9 ribu, dan botol beling per biji Rp 250.

"Sejak suami meninggal, saya bekerja sebagai kuli di sebuah proyek. Selama 3 tahun jadi kuli, separuh gaji saya dibawa lari oleh orang lain. Dari situ saya mulai mencari kerja sebagai pemulung. Kalau dihitung perbulan, saya dapat Rp 1 juta. Itu pun kepotong biaya kos Rp 200 ribu serta makan. Dalam sehari saja saya kadang gak makan, hanya minum air putih saja," ungkap Yatim.

Hidup sebatang kara tanpa mempunyai saudara, ia bekerja sebagai pemulung dan menjadi tumpuan hidup satu-satunya.

Sangatlah susah berprofesi sebagai pemulung disekitaran Kuta, hanya keluh kesah yang diterima oleh wanita ini.

"Saya ngambil sampah hanya disekitaran dekat kos mas. Gak berani saya kalau sampai jauh, takut dianggap orang-orang kalau saya mencuri. Ya saya lakoni saja," ungkap seorang wanita paruh baya ini. (*) 

Penulis: Rino Gale
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved