Kepesertaan Informal Masih Minim, BPJS Ketenagakerjaan Terus Upayakan Sosialisasi

Hingga saat ini kepesertaan dari pekerja informal di BPJS Ketenagakerjaan, khususnya wilayah Bali, Nusa Tenggara, dan Papua, masih terbilang minim

Kepesertaan Informal Masih Minim, BPJS Ketenagakerjaan Terus Upayakan Sosialisasi

Laporan Wartawan Tribun Bali, A A Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Hingga saat ini kepesertaan dari pekerja informal di BPJS Ketenagakerjaan, khususnya wilayah Bali, Nusa Tenggara, dan Papua, masih terbilang minim.

Berdasarkan data yang dipaparkan Deputi Direktur Wilayah Banuspa, M. Yamin Pahlevi, dibanding wilayah lainnya, tenaga kerja aktif bukan penerima upah hanya 78.058 dari target 165.357 atau 47,21 persen.

Angka ini di bawah wilayah lain, salah satunya DKI Jakarta yang melampaui target dengan angka tenaga kerja aktif bukan penerima upah mencapai 134,52 persen, atau dari target 301.485 dengan realisasi 405.563 tenaga kerja.

“Untuk perusahaan yang aktif, target BPJS TK Banuspa itu badan usaha atau perusahan bisa 34 ribu, namun baru mencapai 33 ribu jadi 90 persen lebih,” sebutnya, Senin (30/7/2018).

Lanjutnya, tenaga kerja aktif penerima upah yang ditarget di Banuspa sebesar 711.554, namun realisasinya baru 614 ribu lebih atau 86,32 persen.

Kemudian tenaga kerja jasa konstruksi di Banuspa ditargetkan 544 ribu lebih, dan realisasinya melampaui hingga 665 ribu lebih atau 122 persen.

“Memang kepesertaan aktif informal ini paling rendah, dan agak berat di daerah timur. Sebab bagi masyarakat yang bergerak di sektor informal untuk wilayah timur ini, terkadang sektor dalam berusaha tidak sebagus wilayah lain di Indonesia,” jelasnya.

Dengan wilayah cukup luas dan kondisi geografi cukup menantang, banyak tenaga kerja khususnya informal yang pasang surut.

Termasuk pemahaman tenaga kerja ini, belum sebagus daerah Jawa, sehingga masih banyak wilayah di Nusa Tenggara dan Papua yang belum memahami manfaat dari kepesertaan BPJS TK ini.

“Misal pedagang pasar, sebulan dua bulan biasanya hilang. Ya karena kondisi pemasukan usahanya, kemampuan mereka membayar iuran juga susah,” jelasnya.

Ia pun berharap dengan sosialisasi dan edukasi ke lapangan, tenaga kerja bukan penerima upah akan semakin paham pentingnya BPJS Ketenagakerjaan.

Khususnya untuk hari tua dan ketika mereka pensiun menjadi pekerja. Dengan didukung 4 program utama, yakni Jaminan Hari Tua, Jaminan Pensiun, Jaminan Kecelakaan Kerja, dan Jaminan Kematian. (*) 

Penulis: AA Seri Kusniarti
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved