Garuda Wisnu Kencana

Ceritakan Perjuangan Tim Pasang Modul Terakhir GWK, Maestro Nyoman Nuarta: Terharu dan Bangga

Puluhan pekerja pemasangan patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) tampak bersorak saat membawa modul terakhir di atas mobil truk terbuka.

Ceritakan Perjuangan Tim Pasang Modul Terakhir GWK, Maestro Nyoman Nuarta: Terharu dan Bangga
Tribun Bali/Zaenal Nur Arifin
Para pekerja tampak mengibarkan bendera merah putih saat membawa modul terakhir yang melengkapi patung Garuda Wisnu Kenca di Jalan raya Uluwatu, Badung. 

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Puluhan pekerja pemasangan patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) tampak bersorak saat membawa modul terakhir di atas mobil truk terbuka.

Para pekerja ini juga mengibarkan belasan bendera merah putih sambil bernyanyi bersama.

“Bangga dan terharu melihat mereka semua selama 4 tahun mengerjakan modul, dan modul terakhir hari ini (kemarin) dapat dipasang. Cuaca hari ini cukup baik dan pagi tadi sempat hujan mungkin untuk membasahi agar tidak terlalu berdebu, angin juga cukup bersahabat,” ucap perancang patung GWK Nyoman Nuarta, Selasa (31/7).

Baca : 1.226 Pendaki Gunung Rinjani Telah Dievakuasi
 

Baca : Lombok Diguncang Gempa Dini Hari Tadi, Ini Kekuatannya
 

Patung Garuda Wisnu Kencana berdiri megah, Selasa (31/7/2018)
Patung Garuda Wisnu Kencana berdiri megah, Selasa (31/7/2018) (Tribun Bali/Zaenal Nur Arifin)

Ia optimistis seluruh modul dapat terpasang dan selanjutnya tinggal penyelesaian pedestal yang dilakukan pihak GWK.

Pemasangan modul terakhir dipasang malam hari dan 1 Agustus hari ini seluruh modul sudah terpasang.

Sebelum pengangkatan modul terakhir menuju areal pembangunan, Nyoman Nuarta dan manajemen serta pekerjanya melakukan syukuran kecil-kecilan dengan memotong nasi tumpeng di area workshop.

Melihat seluruh modul patung GWK telah dibawa ke areal pembangunan dan segera dipasangkan pada rangka baja yang sudah terpasang, Nyoman Nuarta sedikit sedih.

"Belum selesai sepenuhnya tetapi ya sedih juga. 28 tahun berada di halaman kita tiba-tiba hilang, walaupun menclok di sana. 28 tahun bagian sayap, bagian kepala tiba-tiba sekarang tidak ada sedih juga tidak melihatnya lagi di halaman. Di workshop sudah sepi kehilangan juga rasanya. Tapi senang juga, tapi ya biasa-biasa saja tidak terlalu heboh senangnya," ungkap Nyoman Nuarta kepada Tribun Bali.

Maestro Nyoman Nuarta berpose di Garuda Wisnu Kencana, Selasa (31/7/2018).
Maestro Nyoman Nuarta berpose di Garuda Wisnu Kencana, Selasa (31/7/2018). (Tribun Bali/Zaenal Nur Arifin)

Ia mengaku melihat tim yang dibentuknya ini telah bekerja keras menghasilkan karya besar dan megah.

Kata Nuarta para pekerjanya ini adalah pahlawan budaya, tidak pamrih apa-apa dan yang penting jadi dan bagus.

“Mencari orang-orang seperti itu langka,” terangnya.

Dia mengaku terkesan dan terharu dengan seluruh tim tersebut.

"Tim kita itu tim yang solid sekali jarang ditemui jumlahnya cukup besar dan piawai dan juga perlu nyali seperti anda lihat di atas itu tanpa stegger mereka bergelantungan menjadi spiderman. Dan dia juga harus tahu seni, tidak semua orang mau dan mampu melakukannya. Jika memakai stegger akan membutuhkan biaya lebih besar lagi tentunya, tetapi dengan akal dan usaha bisa dilakukan dengan tetap mengutamakan keselamatan. Pekerjaan ini sudah 4 tahun dan zero excident," papar Nyoman Nuarta.

Saat ditanyai mengenai warna patung tersebut apakah akan dilakukan pewarnaan kembali atau tidak.

Nyoman Nuarta memaparkan bahwa warna yang saat ini melekat memang sudah seperti itu.

"Warnanya sendiri adalah dari alam sendiri jadi obatnya sama tapi kandungan waktu disemprotkan itu berbeda-beda panasnya dan kandungan kita tidak tahu. Dia akan membentuk warna begini dengan sendirinya. Justru buat saya tidak ingin rata warnanya nanti kalau rata warnanya kayak cat tembok ini," tuturnya.

"Jadi mungkin 25 tahun atau 50 tahun kedepannya warnanya akan lebih tosca lagi. Tetapi perlu waktu yang cukup lama. Karena dari logam biasa kalau ditaruh diluar kena panas, hujan dan lainnya itu baru 15 tahun akan jadi warna hijau. Tapi ini kita percepat dengan chemical yang sederhana sehingga tercipta warna hijau tosca seperti sekarang dan kebetulan kita kapur dibawahnya jadi tidak mencemari lingkungan," jelasnya.(*) 

Simak video selengkapnya di bawah ini : 

  

Penulis: Zaenal Nur Arifin
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved