Perobekan Baliho Tolak Reklamasi Teluk Benoa Terjadi Serentak

Kembali terjadi aksi perusakan terhadap baliho-baliho tolak reklamasi Teluk Benoa.

Istimewa
Sejumlah baliho Tolak Reklamasi Teluk Benoa ditemukan dalam kondisi robek, Sabtu (4/8/2018) 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kembali terjadi aksi perusakan terhadap baliho-baliho tolak reklamasi Teluk Benoa.

Dalam siaran pers ForBALI yang diterima Tribun Bali, Sabtu (4/8), disebutkan bahwa perusakan baliho tersebut dilakukan dengan cara dirobek. Diketahui, izin lokasi reklamasi Teluk Benoa akan berakhir pada 25 Agustus 2018.

ForBALI menyebutkan, perobekan baliho yang dilakukan secara senyap tersebut terjadi di Desa Adat Kepaon, Desa Adat Kelan, Desa Adat Jimbaran, Desa Adat Bualu dan Desa Adat Sumerta.

Dikutip dari siaran pers ForBALI, pemuda Desa Adat Kepaon, Kadek Susila mengatakan bahwa perobekan baliho yang terjadi berjumlah tiga baliho yang ada di sepanjang jalan By Pass Suwung, Denpasar.

Lebih lanjut, Susila menjelaskan sudah terjadi dua puluh kali aksi perobekan baliho tolak reklamasi Teluk Benoa di Desa Adat Kepaon.

Susila pun menegaskan bahwa perobekan baliho tolak reklamasi Teluk Benoa merupakan suatu intimidasi mengungkapkan pendapat di muka umum.

Susila pun mengajak seluruh barisan tolak reklamasi Teluk Benoa untuk tidak takut terhadap intimidasi tersebut.

“Jangan takut, kalau dirobek bikin lagi dan pasang lagi. Kita harus tetap berjuang hingga Perpres Nomor 51 Tahun 2014 tersebut dibatalkan,” tegas Susila seperti dikutip dalam rilis ForBALI.

Perwakilan masyarakat Desa Adat Jimbaran, Nyoman Sudiartika menjelaskan, perobekan baliho tolak reklamasi Teluk Benoa di desa adat Jimbaran terjadi di simpang kampus Universitas Udayana Jimbaran.

“Jika dicek di simpang Unud (Universitas Udayana) Jimbaran sudah terpasang CCTV, dan mereka berani melakukan hal seperti itu. Saya pikir mereka adalah orang-orang terlatih,” jelasnya.

Sudiartika pun menegaskan bahwa penolakan terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa harus terus disuarakan sampai Perpres Nomor 51 Tahun 2014 dibatalkan.

“Saya yakin bahwa pemasangan baliho tolak reklamasi Teluk Benoa sudah berada di jalan yang benar, karena mereka yang merusak baliho tersebut melakukan secara diam-diam. Itu sudah menjadi keyakinan kita untuk terus bergerak”, tegasnya.

Ketut Sukadana, Perwakilan Masyarakat Desa Adat Kelan mengecam aksi perusakan baliho tolak reklamasi Teluk Benoa milik Desa Adat Kelan yang sudah terjadi tujuh kali di tempat yang sama.

Halaman
12
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved