Breaking News:

Serba Serbi

Kenapa Saat Terjadi Gempa Bumi Orang Bali Teriak Idup idup idup?

Dikisahkan pada jaman dahulu ada janda yang memiliki dua anak yaitu lelaki anak pertama dan perempuan anak kedua

Ilustrasi gempa 

Untuk itu, Woith dan timnya mengumpulkan 180 penelitian yang menganalisis 729 laporan perilaku aneh hewan terkait dengan 160 gempa bumi.

Mereka menganalisis meta-data penelitian-penelitian tersebut dengan memperhatikan rician seperti besar gempa, jarak, ativitas foreshock (gelombang sebelum gempa utama), dan kualitas penelitian tersebut.

Secara keseluruhan, para peneliti mencatat perilaku yang diamati berasal dari 130 spesies berbeda.

Mulai dari anjing, sapi, bahkan ulat sutera.

Meski datanya terbilang melimpah, para peneliti menyimpulkan bank bukti ini mengalami keterbatasan kritis.

Itu karena hampir semua penelitian, kecuali 14, didasrkan pengamatan tunggal.

Selain itu, tak adanya jadwal membuat mereka sulit mengevaluasi secara obyektif bagaimana perilaku khusus ini berbeda dengan perilaku normal.

Ini membuat para peneliti tidak bisa menyingkirkan biar konfirmasi tentang pola perilaku.

Namun, penelitian yang dipublikasikan dalam Bulletin of the Seismological Society of America ini menyarankan bahwa perilaku aneh para hewan mungkin dipengaruhi getaran awal.

Dengan kata lain, hewan mungkin lebih sensitif pada getaran awal.

"Hewan-hewan itu mungkin merasakan gelombang seismik - gelombang P (primer) atau S (permukaan) - yang dihasilkan oleh foreshick," ujar Woith.

"Pilihan lain, bisa jadi merupakan efek sekunder yang dipicu oleh foreshocks, seperti perubahan air tanah atau pelepasan gas dari tanah yang mungkin dirasakan oleh hewan," imbuhnya.

Kita juga tak bisa mengesampingkan kemungkinan bahwa hewan punya "super-sense".

Dengan mencatat aktivitas populasi hewan dalam jangka panjang, jauh sebelum gempa bumi, kita mungkin bisa mendapat informasi yang lebih baik bagaimana perubahan perilaku mereka terkait dengan sifat gempa.

"Sampai saat ini, hanya sedikit seri waktu yang terkait dengan perubahan perilaku hewan. Paling lama hanya satu tahun," kata Woith. (*)

Penulis: Putu Supartika
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved