Berkat Inovasinya Menggabungkan Seni Tradisi dan Digital, Seniman Ini Bisa Keliling Dunia

Jika mendengar kata wayang di Bali, maka kita akan berpikir tentang batang pisang, kelir, blencong (lampu untuk pementasan wayang), ataupun benang

Berkat Inovasinya Menggabungkan Seni Tradisi dan Digital, Seniman Ini Bisa Keliling Dunia
Tribun Bali/Putu Supartika
Penampilan wayang listrik garapan I Made Sidia di Art Center Sabtu (18/8/2018) malam. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Jika mendengar kata wayang di Bali, maka kita akan berpikir tentang batang pisang, kelir, blencong (lampu untuk pementasan wayang), ataupun benang.

Namun, ada sebuah penampilan wayang yang tidak biasa yang disebut dengan wayang listrik.

Wayang ini merupakan hasil eksperimen dari seorang seniman asal Desa Bona, Blahbatuh, Gianyar, I Made Sidia bersama sanggar bentukannya yaitu Sanggar Paripurna.

Wayang yang ditampilkan tidak lagi menggunakan blencong, melainkan menggunakan sebuah proyektor dan layar.

Dari proyektor tersebut akan ditembakkan warna-warni sesuai suasana tokoh pada wayang yang ditampilkan.

Ia juga mencampurkan antara seni digital serta animasi komputer dengan seni tradisi.

Bahkan untuk musik pengiringnya ia mengkolaborasikan antara gambelan dengan musik modern.

"Saya sudah menekuni seni digital ini sejak 1990. Saya mencampurkan seni tradisi dengan komputer, animasi, lalu ditembakkan ke layar dengan proyektor," Sidia, Sabtu (18/8/2018) malam, di Art Center.

Berkat hasil eksperimennya yang diberi nama Wayang Listrik ini, ia telah pentas keliling dunia.

Ia pernah pentas keliling Eropa, Amerika, Australia, maupun Jerman.

"Kalau pentas di luar negeri, kemasannya beda, biasanya pakai bahasa Inggris, kalau pentas di Jerman ada teks Jerman juga," katanya.

Dan pada tanggal 1 April 1990, Sadia pun resmi membangun sanggar yang bernama Sanggar Paripurna yang pentas keliling bersamanya.

"Saya ingin selalu mengeksplorasi kisah lainnya sebagai media berkarya," imbuhnya. (*)

Penulis: Putu Supartika
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved