Berita Banyuwangi

Ngunduh Kopi Pitu Telu dan Kemerdekaan Petani dari Tengkulak

Momentum peringatan HUT RI ke-73 jadi penanda petani kopi di Dusun Lerek Banyuwangi merdeka dari tengkulak

Ngunduh Kopi Pitu Telu dan Kemerdekaan Petani dari Tengkulak
Surya/Istimewa
Festival Ngunduh Kopi Pitu Telu Banyuwangi. 

TRIBUN-BALI.COM, BANYUWANGI - Momentum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) yang ke-73, menjadi penanda petani kopi, di Dusun Lerek, Kelurahan Gombengsari, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, merdeka dari tengkulak.

Ini ditandai dengan Festival Ngunduh Kopi Pitu Telu, di Dusun Lerek, Gombengsari, Minggu (19/8/2018).

Pitu Telu diambil dari angka ke-73 peringatan kemerdekaan negara Indonesia.

73 juga bermakna sebagai tahun 1973, di mana rakyat di kampung ini mulai menanam kopi.

"73 juga bermakna kemerdekaan bagi petani Gombengsari dari tengkulak," kata Yusuf Widiyatmoko, Wakil Bupati Banyuwangi, saat hadir dalam festival Ngunduh Kopi.

Yusuf mengatakan, tengkulak biasanya membeli kopi dari kebun rakyat seperti di Gombengsari ini sangat murah.

Padahal apabila petani mau memproses kopinya dengan lebih baik, harganya lebih tinggi dan menguntungkan.

"Kami harap dengan diselenggarakannya festival ini, kopi rakyat di Gombengsari lebih mandiri dan perekonomian mereka meningkat," kata Yusuf.

Dalam Ngunduh Kopi Pitu Telu itu, masyarakat diajak dan diajari cara mengolah kopi.

Mulai dari memilih, menumbuk, menyangrai, hingga menyajikan kopi.

Halaman
123
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved