Rasakan Guncangan Gempa 6,9 SR Saat Dirawat di Lantai 3, Wijaya Ucapkan Gayatri Mantra

Ketika gempa 6.9 SR mengguncang Lombok, Minggu (19/8/2018) malam, dan terasa hingga ke Bali, Made Wijaya Putra tidak langsung panik

Rasakan Guncangan Gempa 6,9 SR Saat Dirawat di Lantai 3, Wijaya Ucapkan Gayatri Mantra
Tribun Bali/Putu Supartika
Proses pemindahan pasien dari tenda darurat, Senin (20/8/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Ketika gempa 6.9 SR mengguncang Lombok, Minggu (19/8/2018) malam, dan terasa hingga ke Bali, Made Wijaya Putra tidak langsung panik, tapi dia mengucapkan Gayatri Mantra.

Ia adalah pasien yang dirawat di Ruang Angsoka lantai tiga di RSUP Sanglah, dan sedang menjalani perawatan patah tulang kaki.

"Pas itu mau tidur, ada goncangan saya tidak panik, langsung doa. Saya jadi tenang," kata Wijaya saat ditemui Senin (20/8/2018) pagi.

Ketika gempa kedua, ia menceritakan semua pasien minta turun, dan saat mau turun prosesnya lumayan lama karena pihak rumah sakit mesti melapor ke atasan.

"Setelah dibolehin baru turun, saya langsung dibawa ke tenda. Trauma dikit tapi doa aja," katanya.

Ia juga mengatakan bahwa saat gempa, di kamar tempatnya dirawat ada tiga orang pasien.

Direktur Medik dan Keperawatan RSUP Sanglah, Dr. dr. I Ketut Sudartana mengatakan, pasien yang minta pindah yaitu pasien dari Ruang Angsoka dan Cempaka lantai dua dan tiga.

Yang dipindah ke tenda darurat adalah pasien dari ruang Angsoka berjumlah 13 pasien.

"Untuk pagi ini pukul 08.00 WITA, mereka sudah dipindahkan ke ruang Kamboja dan Bakung Barat maupun Bakung Timur," katanya.

Sementara untuk pasien di ruang Cempaka ada pasien kandungan, bayi, dan anak-anak dipindah ke ruang Cempaka Lama sekitar 40 orang pasien.

"Untuk perawatan pasien tetap perlangsung seperti biasa, baik pemberian obat dan lain-lain. Dari segi pelayanan kesehatan tidak jadi masalah. Itu karena pasien dan keluarga trauma," imbuhnya.

Pasien ini belum dikembalikan ke ruangan awal karena masih trauma dan belum mau dipindah ke ruang awal sekarang.

"Dari segi keamanan gedung kami tidak ada masalah. Mereka umumnya memilih di lantai 1 agar saat gempa cepat evakuasi ke luar," jelasnya. (*)

Penulis: Putu Supartika
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved