Breaking News:

Respon Fenomena Kerauhan Saat Bawakan Tarian Rejang Sandat Ratu Segara, Bupati Eka Sarankan Begini

Bupati Tabanan Eka Wiryastuti sudah merespon mengenai fenomena kerauhan para siswi di beberapa sekolah.

Tribun Bali/I Made Prasetya Aryawan
Bupati Tabanan, Eka Wiryastuti, bersama sejumlah tamu undangan saat pementaras Tari Rejang Sandat Ratu Segara di Pantai Tanah Lot, Tabanan, Sabtu (18/8/2018) sore. 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Bupati Tabanan Eka Wiryastuti sudah merespon mengenai fenomena kerauhan para siswi di beberapa sekolah.

Dirinya mengapresiasi semangat para penari dan menyarankan malukat bagi para penari yang masih mengalami kerauhan.

Bupati Eka mengatakan, kerauhan terjadi karena adanya gesekan unsur positif dan negatif.

Sebab, Tarian Rejang Sandat Ratu Segara bersifat persembahan ke hadapan penguasa Segara, dan memang harus sakral dan berfungsi sebagai pembersih unsur negatif.

Karenanya setelah menarikan tari kolosal ini, unsur negatif terganggu atas kehadiran unsur positif dan harus dimurnikan melalui panglukatan (pembersihan diri).

"Tarian ini memang dirancang agar sakral dan berfungsi membersihkan unsur negatif yang ada di dalam diri. Bisa saja ada unsur negatif, dan memang pada dasarnya mereka (yang kesurupan) ada kelainan (bebayian) atau ada unsur lainnya. Sehingga setelah menari, masuk unsur positif, dan menyebabkan unsur negatif itu terganggu dan terjadi gesekan antara unsur positif dengan unsur negatif,” jelasnya seperti rilis yang diterima Tribun Bali dari Humas Pemkab Tabanan, Selasa (21/8).

Dia menerangkan, bahwa energi negatif bawaan dari dalam diri tersebut memang sulit dilepaskan.

Sehingga harus melakukan panglukatan (pembersihan) di Pura Luhur Tanah Lot. Niscaya dengan malukat bisa menghindarkan diri dari unsur-unsur energi negatif.

"Itu (energi negatif) seperti magnet yang tidak bisa dilepas atau sulit dilepas, makanya kita harus malukat (setelah melakukan tarian). Karena tari ini adalah pengeruakan atau pembersihan. Jikalau memang dia sakit karena unsur bawaan ya Astungkara dibersihkan,” terangnya.

Bupati perempuan pertama di Bali ini menambahkan, mungkin juga mereka yang kerauhan memang ada bawaan unsur niskala, seperti kepingit, ataukah memang harus ngiring dan lainnya yang berhubungan dengan unsur niskala.

Halaman
1234
Penulis: I Made Prasetia Aryawan
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved