Liputan Khusus

Apakah Gempa Seperti Di Lombok Akan Terjadi di Bali, Begini Jawaban Ahli

Gempa tersebut sempat dikaitkan oleh masyarakat dengan gempa yang terjadi di Lombok dan sekitarnya belakangan ini.

Apakah Gempa Seperti Di Lombok Akan Terjadi di Bali, Begini Jawaban Ahli
Tribun Bali / Rizal Fanany
Bangunan monumen Bajra Sandhi terlihat rusak akibat goncangan gempa melanda Bali beberapa waktu lalu, Minggu (26/8/2018). 

TRIBUN-BALI.COM - Belakangan ini, sebagian masyarakat di Bali mulai bertanya apa yang sesungguhnya terjadi sampai gempa bumi cukup kerap melanda Lombok, yang getarannya terasa pula di Bali.

Apalagi pada hari Kamis, 23 Agustus 2018 pukul 06:48:40 Wita, Denpasar dan sekitarnya juga diguncang gempa dengan magnitudo 5,1 Skala Richter (SR), yang episentrumnya di lepas pantai selatan Bali.

Gempa tersebut sempat dikaitkan oleh masyarakat dengan gempa yang terjadi di Lombok dan sekitarnya belakangan ini.

Baca: Terbukti, Rumah Tradisional Bali Lebih Kokoh Meski Sering Diguncang Gempa

Baca: 5 Mobil Diseruduk Peserta Melis Yang Sedang Berada di Alam Bawah Sadar, Ini Yang Terjadi

Namun, dari kacamata ilmu geologi keduanya merupakan kejadian yang berbeda, kata Ida Bagus Oka Agastya, anggota Bidang Mitigasi Bencana dan Konservasi Lingkungan, Pengurus Pusat Ikatan Ahli Geologi (IAGI) Indonesia.

Agastya mengungkapkan, kejadian gempa di Lombok dan sekitarnya disepakati oleh para ahli geologi sebagai gempa yang diakibatkan back arc thrust flores.

Itu merupakan rangkaian patahan bumi yang berada di utara lepas pantai gugusan kepulauan, yang  membentang dari kepulauan Nusa Tenggara hingga Pulau Bali.

Rangkaian patahan tersebut sebenarnya merupakan akibat dari subduksi lempeng Eurasia dan Indo-Australia yang berada di selatan Indonesia.

Kondisi demikian menyebabkan Indonesia berpotensi mengalami bencana gempa bumi.

“Perlu kita ketahui, gempa bumi sendiri tidak dapat dipastikan kapan terjadinya, namun sejauh ini penelitian gempa bumi, khususnya di Indonesia, lebih kepada menentukan daerah yang berpotensi mengalami gempa dan memitigasi bencana tersebut di daerah rawan,” terang Agstya.

Bali memang memiliki beberapa patahan-patahan aktif yakni di Seririt dan Karangasem, yang pernah mengalami pergerakan sehingga menghasilkan gempa pada tahun 1815, 1917, 1976 dan 1979 dengan hiposentrum dangkal sehingga menyebabkan kerusakan yang sangat parah pada waktu itu. Akhirnya kejadian tersebut kita kenal sebagai “Gejer Bali”.

Halaman
12
Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved