Liputan Khusus
Terbukti, Rumah Tradisional Bali Lebih Kokoh Meski Sering Diguncang Gempa
Bukti-bukti di lapangan menunjukkan, rumah tradisional Bali tahan dan aman dari dampak destruktif gempa.
Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara | Editor: Eviera Paramita Sandi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Gempa Lombok yang juga dirasakan cukup kuat guncangan dan dampaknya di Bali, membuat pencegahan dampak destruktif gempa menjadi perhatian sejumlah pihak di Pulau Dewata.
Perhatian pun, salah-satunya, tertuju ke rumah tradisional Bali.
Bukti-bukti di lapangan menunjukkan, rumah tradisional Bali tahan dan aman dari dampak destruktif gempa.
"Sudah banyak terbukti, bahkan sudah ratusan tahun usianya, rumah-rumah tradisional Bali masih bertahan. Padahal, beberapa kali Bali mengalami kejadian gempa, termasuk gempa Seririt yang besar pada tahun 1976. Contohnya di desa saya sendiri, rumah kakek buyut saya masih utuh sampai sekarang," kata pakar arsitektur yang juga pengajar di Fakultas Teknik Universitas Dwijendra, Denpasar, Ir I Nyoman Gde Suardana, MT, IAI, kepada Tribun Bali akhir pekan lalu.
Suardana mengungkapkan, kayu dan tiang rumah kakeknya masih utuh dan tidak pernah diganti hingga sekarang.
Padahal, usia rumah kakeknya itu sudah tiga ratusan tahun.
Tiang-tiangnya masih asli, yang diganti hanya atap dan gentengnya.
“Rumah itu dibangun oleh kakek buyut saya. Masih banyak bukti lain bahwa rumah tradisional Bali tahan gempa. Kejadian gempa di Seririt pada tahun 1976, itu kan rumah-rumah masih berdiri kokoh," lanjut Suardana.
Suardana menyebutkan, berdasarkan hasil penelitian para ahli, Bali dinyatakan tergolong dalam urutan wilayah III tingkat aktivitas gempa bumi di Indonesia.
Dengan kondisi demikian, disarankan agar seluruh warga menyadarinya, dan lebih menyiapkan diri dengan membuat bangunan-bangunan yang tahan gempa.
Suardana mengatakan, para leluhur Bali sebetulnya telah menyiapkan rancangan bangunan arsitektur tradisional yang sudah terbukti tahan guncangan gempa.
"Dalam hikayat tradisional Bali, Bumi diibaratkan sebagai 'Bedawang Nala' oleh tetua moyang kita, yang setiap waktu dapat bergerak atau bergetar. Merupakan kewajiban kita untuk senantiasa sadar bahwa Bumi kita memang terletak dalam daerah gempa yang setiap saat bisa berguncang," kata Suardana.
Menurut BMKG (Badan Meteorologi dan Geofisika), memang secara tektonik, busur kepulauan Bali dan Nusa Tenggara merupakan salah-satu daerah dengan tingkat kegempaan yang tinggi di Indonesia.
Keaktifan ini disebabkan wilayah ini berada di antara zona benturan lempeng Indo-Australia dengan Eurasia di selatan dan patahan naik busur belakang Bali-Flores (Bali Flores back arc thrusting) di utara.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, kata Suardana, menyebut bahwa banyaknya bangunan yang rusak akibat gempa tersebut lantaran tidak mengikuti kaidah bangunan tahan gempa.
Bangunan tahan gempa, lanjut Suardana, sebenarnya sudah diatur dalam kaidah dari pemerintah melalui building code Kementerian Pekerjaan Umum dan Permukiman Rakyat (PUPR).
Hanya saja, saat ini banyak bangunan yang menggunakan bahan berat.
Tidak seperti zaman dulu yang menggunakan bahan ringan, seperti kayu.
Penyebab adanya korban jiwa dalam bencana gempa bumi, kata Suardana, bukanlah gempa itu sendiri melainkan kegagalan manusia menciptakan bangunan yang tahan gempa.
Sebab, gempa bumi adalah fenomena alam yang tak dapat dihindari.
"Maka dari itu harus diantisipasi agar tak berdampak merugikan pada lingkungan manusia. Untuk itu, tindakan utama yang harus dilakukan adalah dengan membuat bangunan yang aman terhadap gempa. Tujuan utama meminimalkan korban jiwa," terang pria lulusan Magister Teknik (MT) Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya itu.
Suardana menjelaskan, bangunan tradisional Bali memang lebih kokoh melawan gempa.
Sebab, selain diperkuat dengan susunan sineb-lambang, kerangka bangunan tradisional Bali juga diperkuat dengan adanya bale-bale yang mengikat 4 (empat) tiang atau canggah wang.
"Konstruksi kerangka badan ini ibarat kursi atau meja. Bila mendapat gaya samping terlalu besar, ia hanya bergeser tempat saja," jelas pria yang telah berhasil merancang arsitektur beberapa hotel besar di Bali itu.
Suardana membagi tips bagaimana cara agar tembok bangunan menjadi kuat. Caranya adalah dengan menebalkan sudut-sudut tembok seperti halnya paduraksa pada tembok penyengker.
"Jadi dinding diberi bingkai penebalan material. Dinding yang terlalu luas dibagi-bagi dalam bingkai-bingkai kecil. Bingkai-bingkai ini didigestilir sebagai pepalihan atau ornamen," jelas Suardana.
Dalam ilmu arsitektur dikenal sifat-sifat bangunan.
Dimana bangunan dengan massa yang berat akan menanggung gaya guncangan yang besar pula.
Demikian juga sebaliknya, bangunan yang ringan akan menanggung gaya guncangan yang lebih ringan akibat guncangan gempa.
Tinggi Berbahaya
Bangunan yang tinggi, menurut Suardana, jauh lebih berbahaya.
Sebab, jika terjadi gempa, bangunan tinggi akan lebih bergoyang.
Pun ketika terjadi gempa, akan ada gaya-gaya yang mentakik “pinggang” dan “leher” sebuah bangunan.
"Maka dari itu pikirlah baik-baik sebelum membangun bertingkat, perlu dihitung dengan teliti dan dilaksanakan dengan hati-hati," jelas ahli arsitektur yang pernah menjadi pembicara pada pagelaran Arcasia di Nepal tahun 2013 itu.
Dalam arsitektur Bali khususnya, atap (kepala) membagi gaya-gaya merata ke seluruh penjuru dan ditampung merata dengan kokohnya oleh sineb dan lambang.
Atap tersebut kaku serta kokoh.
Atap model “kuda-kuda” akan tetap kuat bila dalam membuat bangunan tidak lupa akan hal-hal seperti tiap kuda-kuda duduk di atas tiang atau pada ring balk yang kuat, ada ikatan angin antara kuda-kuda, dan siku penguat pada setiap pojok bila menggunakan balok keliling kayu.
"Kuda-kuda atap pelana dengan tembok samping yang menjadi tinggi, bila tidak kokoh dan kaku, lupa ikatan angin, dan pelaksanaan tidak teliti, akibatnya bila ada gempa akan sungguh berbahaya," jelas Suardana.
Lalu bagaimana dengan badan bangunan?
Bila dinding itu tidak cukup kaku, ia akan meliuk atau meleot (berubah bentuk) dan menjadi rapuh.
Bila terdorong oleh guncangan mendatar, tembok menjadi bencah-bencah, mendekati batas ketahanan untuk berdiri memikul atap.
Lantas bila ada guncangan lagi, ia akan sangat mudah runtuh.
Lantas bagaimana dengan halaman (natah) rumah?
Suardana menjelaskan bahwa halaman rumah pada tatanan gubahan ruang rumah tradisional Bali punya peranan yang sangat vital sebagai tempat berlindung dari reruntuhan bangunan maupun komponen-komponennya.
Halaman ruang terbuka yang bermakna kekosongan dan sebagai pusat orientasi, merupakan pusat tuju paling aman.
"Pada kekosonganlah manusia merasa takjub akan kebesaran Sang Pencipta. Sekaligus merasakan kekerdilan dan kegentaran diri amat dalam menyaksikan guncangan alam maha perkasa.
Dari hati kecil yang paling asasi, di tengah natah, manusia mendambakan keselamatan. natah-lah aura pelepasan tumpah ruah. Pelepasan rasa ketakutan dan semacamnya. Di natah, manusia jadi luruh, dan tepekur mohon perlindungan-Nya," tutur pria kelahiran 21 September 1956.
Mengapa bangunan tradisional Bali bisa dikatakan lebih tahan gempa?
Menurut Suardana, jika ditelisik secara keseluruhan, bangunan tradisional Bali dari bagian kepala memiliki atap yang ringan, rendah, kokoh, dan kaku.
Bagian badan bangunan Bali juga kokoh, lentur dan ringan, serta pada bagian kaki bangunan Bali memiliki berat yang cukup, kokoh, dan kaku.
"Selain itu denah tiap bangunan Bali sederhana dan rapi, serta dibangun satu persatu secara terpisah. Atap yang ringan, kaku dan rapi, akan membagi rata gaya-gaya, bertumpu dalam bingkai sineb dan lambang, maka gaya-gaya tersebut akan tersalur ke tiang-tiang bangunan (saka-saka)," jelas Suardana.'
Dalam Saka-saka bangunan Bali, kayu yang terpilih mendukung atap duduk di atas sendi sendi atau yang bersifat sendi.
Antara saka dan saka terikat oleh bale bale atau oleh canggah wang.
"Sehingga jika gempa datang mengguncang, bangunan Bali tradisional Bali biasanya hanya bergoyang saja. Jika ada dinding yang roboh, struktur inti bangunan akan tetap berdiri di atas pondasi," terangnya
Tak Peduli Kondisi Geologi
Sementara itu, Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Provinsi Bali, Ketut Ariantana menjelaskan, Bali sebetulnya memiliki patahan-patahan aktif yang sempat terjadi di Seririt, Buleleng, dan Karangasem pada tahun 1815, 1917, 1976, dan 1979 silam dengan hiposentrum dangkal, sehingga menyebabkan kerusakan yang sangat parah kala itu.
“Gempa itu sebenarnya kejadian yang biasa. Masalahnya sekarang kan ada orang yang tinggal bermukim. Kalau di daerah gempa itu tidak ada penghuni kan tidak masalah. Mau gempa berapapun, tidak masalah. Makanya, perlu mitigasi agar meminimalkan terjadinya korban jiwa,” kata Ariantana kepada Tribun Bali pekan lalu.
Ariantana menyarankan pemerintah, khususnya di Bali, mulai menerapkan sistem tata ruang berbasiskan geologi.
Sebab, menurut dia, saat ini pembangunan sudah tidak memperhitungkan aspek geologi sehingga jika terjadi bencana seperti gempa dan tsunami, bisa menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar.
“Misalnya di Karangasem. Sudah tahu di sana daerah dengan tingkat gempa yang cukup tinggi, masih saja orang berbondong-bondong membuat rumah dekat dengan gunung. Di Seririt di kawasan Pantai Lovina juga sekarang sedang dikembangkan. Di Kuta pun seharusnya lebih banyak bangunan tinggi. Karena kalau ada tsunami orang tinggal naik ke atas,” kata Ariantana.
Ariantana melanjutkan, dari catatan sejarah, Bali belum pernah mengalami tsunami.
Namun tidak menutup kemungkinan jika terjadi gempa dengan magnitudo besar, tsunami bisa terjadi di Bali.
“Yang pernah kena tsunami kan Banyuwangi. Kalau di sana terjadi gempa, tsunami bisa terjadi sampai di Bali. Jadinya kalau berbicara tsunami, kemungkinan kita menerima kiriman tsunami dari Jawa Timur. Karena di sana sudah pernah terjadi tsunami. Waktu tsunami di Aceh saja sampai di Pakistan kan?” tutur Ariantana.(win/bus)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/tips-rumah_20180828_115042.jpg)