Pemangku Tri Kahyangan Desa Adat Munggu Pimpin Upacara Mecaru di Lokasi Penemuan Mayat

Kasus penemuan mayat yang terjadi di Desa Munggu, Jalan Raya Munggu-Tanah Lot membuat tiga Banjar di Desa Munggu melaksanakan Pecaruan

Pemangku Tri Kahyangan Desa Adat Munggu Pimpin Upacara Mecaru di Lokasi Penemuan Mayat
Tribun Bali/Agus Aryanta
Warga memenuhi lokasi penemuan mayat di dalam got seputaran jalan Bypass Munggu menuju Tanah Lot, Minggu (2/9/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Ahmad Firizqi Irwan

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Kasus penemuan mayat yang terjadi di Desa Munggu, Jalan Raya Munggu-Tanah Lot membuat tiga Banjar di Desa Munggu melaksanakan Pecaruan pada Selasa (4/9/2018).

Pecaruan atau mecaru adalah upacara umat Hindu yang dilaksanakan untuk menjaga keharmonisan antara manusia dengan alam.

Di mana dalam upacara mecaru ini melibatkan tiga banjar seperti Banjar Adat Penataran Agung, Banjar Adat Taman Suniah, Banjar Adat Jeglang Melanting, yang menjadi satu dalam lingkungan Desa Adat Kerta Bujangga, Desa Munggu, Mengwi, Badung, Bali.

Kepala Lingkungan Desa Adat Munggu, I Nyoman Murdana mengatakan, untuk menjaga lingkungan desa agar terhindar dari sifat negatif, bendesa adat sarankan untuk melaksanakan upacara di lokasi penemuan mayat.

"Karena itu merupakan wilayah tempat kami, jadi tugas dan tanggung jawabnya dari sini. Istilah kami itu teteh atau ada orang meninggal yang semestinya tiang (saya) secara adat dan kepercayaan. Mestinya kami laksanakan ini untuk menghilangkan hal-hal yang negatif atau yang tidak kami inginkan atas saran dari bendasa adat kami di sini," ujarnya saat ditemui Tribun-Bali.com di Banjar Penataran Agung.

Upacara yang dilakukan ini juga bertujuan untuk tidak terjadi kembali hal seperti ini dan menghilangkan yang bersifat negatif.

Selain itu, upacara ini dipimpin langsung oleh Pemangku Tri Kahyangan yang dihadiri langsung oleh lembaga-lembaga adat desa, termasuk bendesa adat yang mencetuskan pelaksanaan upacara ini dan lainnya.

Nyoman Murdana juga menjelaskan kepada Tribun-Bali.com bahwa kejadian ini belum pernah terjadi di sini.

"Sebelumnya tidak pernah terjadi di sini, tapi semoga kedepannya tidak terjadi lagi hal ini. Memang jika ada orang yang istilahnya di Bali itu, mati salah pati (mati yang tidak terduga) itu kita wajib melakukan pembersihan," tambahnya.

Halaman
12
Penulis: Firizqi Irwan
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved