Bali Waspadai Virus ASF, Kini Jadi Wabah yang Menyerang Babi di China

Berita mengenai wabah virus yang dibawa oleh hewan babi, yakni African Swine Fever (ASF) atau Demam Babi Afrika, mencuat belakangan ini.

Bali Waspadai Virus ASF, Kini Jadi Wabah yang Menyerang Babi di China
istimewa via www.fao.org
Siklus transmisi virus ASF 

"Jadi, poin utama pencegahan virus ini kembali terletak pada pengawasan di gerbang masuk Bali seperti di bandara dan pelabuhan," tegasnya. 

Diketahui bahwa virus ASF tahan hidup dalam daging babi yang telah diasap, diberi garam atau makanan kurang matang.

Karena itu, sisa daging babi dan bahan mengandung babi mudah menularkan penyakit ini. Meskipun demikian, virus mati pada pemanasan 70C selama 30 menit.

Ni Made Sukerni mengatakan, penetapan status kewaspadaan dilakukan sejak sepekan lalu. Pengawasan penuh akan dilakukan maksimal hingga akhir bulan September 2018 mendatang.

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Bali akan terus mengumpulkan data pemantauan hingga benar-benar menemukan gejala klinis tertentu. 

Secara fisik, kata dia, gejala klinis pada hewan ternak yang mengidap virus ini bisa dikenali dari perubahan perilakunya seperti tidak mau makan dan suhu badan yang tinggi.

"Tanda paling mencolok bisa diketahui dari adanya perubahan warna kulit menjadi kemerahan daripada biasanya. Selain itu, tingkat kematiannya tiba-tiba tinggi. Itu yang patut diwaspadai," papar Ni Made Sukerni. 

Ciri-ciri Hewan Terjangkit Virus ASF

1. Hampir mirip dengan gejala klinis hog cholera

2. Serupa gejala klinis demam berdarah

3. Panas demam tinggi

4. Tingkat kematian hewan ternak tinggi

5. Kulit babi tampak kemerahan/lebih merah daripada warna kulit normalnya. Mengalami pendarahan pada kulit. (*) 

Penulis: eurazmy
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved