Petani Garam Kelating Pertahankan Cara Pembuatan Tradisional di Tengah Gempuran Pabrik

Gusti Nyoman Budiarta (43) sudah sibuk menyiram pasir hitam yang sudah kering di Pantai Kelating, Desa Kelating, Kerambitan, Tabanan

Petani Garam Kelating Pertahankan Cara Pembuatan Tradisional di Tengah Gempuran Pabrik
Tribun Bali/I Made Prasetia Aryawan
MEMBUAT GARAM - Petani garam, Gusti Nyoman Budiarta menggemburkan pasir hitam yang menjadi dasar garam di Pantai Kelating, Desa Kelating, Kecamatan Kerambitan, Tabanan, Rabu (12/9/2018). 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Hari belum terang, waktu masih menunjukkan pukul 06.00 WITA.

Gusti Nyoman Budiarta (43) sudah sibuk menyiram pasir hitam yang sudah kering di Pantai Kelating, Desa Kelating, Kerambitan, Tabanan, Rabu (12/9/2018).

Setiap hari ia rutin melakukannya.

Budiarta merupakan satu di antara sedikit petani garam yang masih bertahan untuk menciptakan garam layak konsumsi dengan cara pembuatan tradisional.

Saat ini, hanya tersisa 20 petani garam yang tergabung dalam satu kelompok.

Mereka sedang berjuang mempertahankan tradisi dari gempuran pabrik dan penjual garam yang hanya mengklaim nama Garam Kelating meskipun tidak dibuat dengan proses ala warga kelating.

Setiap kali produksi dengan jangka waktu dua sampai tiga hari itu, ia dan petani lainnya yang berasal dari Banjar Dangin Pangkung itu biasanya berhasil memproduksi 15-20 kilogram garam.

Itupun sangat tergantung dengan kondisi cuaca.

Budiarta menuturkan, pembuatan garap tradisional memerlukan proses yang lumayan banyak.

Setiap kali produksi memerlukan waktu dua sampai tiga hari dengan berbagai tahapan yang dilakukan termasuk penggunaan alat tradisional.

Halaman
1234
Penulis: I Made Prasetia Aryawan
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved