Ngaben Bagi Umat Hindu Bali Memberatkan? Begini Solusi dari Ida Rsi Bujangga Waisnawa

Adanya salah kaprah yang mengatakan bahwa "sulitnya mati di Bali" menurut Ida Rsi Bujangga Waisnawa Putra Sara

Ngaben Bagi Umat Hindu Bali Memberatkan? Begini Solusi dari Ida Rsi Bujangga Waisnawa
Tribun Bali/Putu Supartika
Seminar Reformasi Ritual Upacara dan Upakara Ngaben yang dilaksanakan oleh Pinandita Sanggraha Nusantara, Minggu (16/9/2018) di Gedung Santi Graha Denpasar. 

Dengan tidak adanya sanksi kesepekan serta aturan-aturan desa yang dirasa memberatkan umat Hindu di desa tersebut, maka otomatis sistem suka duka akan berjalan dengan baik, dan masyarakat akan lebih memilih setranya sendiri untuk melaksanakan upacara kematian dibanding mencari krematorium.

Sementara itu solusi untuk mengatasi keharusan melaksanakan upakara pengabenan yang besar dan mahal yaitu menurut Ida sebagaimana yang dikutip di sloka Bhagawad Gita IX. 26, di dalam ajaran Hindu, tidak ada keharusan untuk melakukan upacara dengan upakara bebantenan yang besar dan mahal.

"Siapa saja yang sujud dihadapan-Ku dengan persembahan sehelai daun, sekumum bunga, sebiji buah-buahan, seteguk air, Aku terima sebagai bakti persembahan dari orang yang berhati suci," lanjut Ida menerjemahkan sloka dalam Bhagawadgita IX. 26.

Inti dari upakara pitra yadnya untuk pengabenan yaitu nasi angkeb, bubur pirata, angenan, pangruyagan, pisang jati, panjang ilang, dyus kamaligi, pengadang-adang dan tirtha pangentas.

Walaupun upacara pengabenan itu kecil atau besar upakara inti ini mesti ada.

Sementara itu untuk Ayaban Pengiring (pras pengambian, udel kurenan, pulogembal, bebangkit) bukan merupakan banten inti karena sesungguhnya ayaban pengiring dapat dipilih sesuai dengan kemampuan keuangan masing-masing.

Pengabenan sederhana itu juga sudah sesuai dengan isi Lontar lndik Maligya.

Selain itu perlu juga dipahami tentang fungsi, makna dan arti upacara serta tentang konsep inti upacara oleh sang sulinggih, prajuru adat, sarati banten dan masyarakat Hindu.

Sedangkan solusi untuk mengatasi penyimpanan mayat terlalu lama yaitu menurut Ida sebenarnya menyimpan mayat terlalu lama pada saat ini sudah tidak perlu, karena sudah ada beberapa solusi sesuai dengan hasil Paruman Wiku Parisada Hindu Dharma Indonesia sejak tahun 1959.

Selain itu dalam Parumana Wiku se-Kota Denpasar, 29 Juni 2015, telah dihasilkan keputusan yaitu aturan “nyekeh” atau menitipkan mayat berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, dapat dihindari karena sudah adanya aturan tentang ngaben dadakan sengker pitung dina (7 hari) yang tidak perlu untuk memilih dewasa ayu, namun yang dihindari adalah Semut sedulur, Kala Gotongan, Prewani, Puranama Tilem dan pujawali di Kahyangan Desa setempat. Dan setiap Wuku (satu Minggu), pasti ada dewasa untuk ngaben dadakan.

Halaman
123
Penulis: Putu Supartika
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved