Sudiana: Kalau Semua Turis Naik ke Pura Nyumbang Biaya Upacara, Kapan Bisa Memberi Efek Jera?

Selama ini pemaksan atau pengempon pura lemah ketika ada kejadian serupa termasuk kemalingan pretima.

Sudiana: Kalau Semua Turis Naik ke Pura Nyumbang Biaya Upacara, Kapan Bisa Memberi Efek Jera?
Tribun Bali/Putu Supartika
Ketua PHDI Bali, Prof. Dr I Gusti Ngurah Sudiana. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Ketua PHDI Bali, Prof I Gusti Ngurah Sudiana saat audiensi dengan Komisi IV DPRD Bali di Kantor DPRD Bali, Senin (17/9/2018) meminta agar bule yang naik ke pelinggih di Pura Batukaru Tabanan diproses secara hukum.

Sudiana mengatakan bahwa selama ini pemaksan atau pengempon pura lemah ketika ada kejadian serupa termasuk kemalingan pretima.

Baca: Di Luar Negeri Tak Boleh Masuk Tempat Suci, di Bali Turis Malah Selfie dengan Rangda

"Dia cukup minta maaf dan memberikan biaya untuk upacara pembersihan selesai sudah. Kami masih ingat salah satu pencurian pretima dan pengacaranya datang mau menyumbang biaya upacara dan minta maaf dan masalahnya selesai. Kalau gitu umat Hindu habis waktunya untuk upacara. Kapan bisa memberi efek jera?" tutur Sudiana.

Sehingga lewat Komisi IV DPRD Bali Sudiana memohon agar pihak kepolisian memproses penghinaan ini. 

Apalagi beberapa kejadian sebelumnya tidak diproses dengan baik semisal kasus turis naik di pelinggih yang ada di Pura Gelap.

"Kejadian di Pura Batumadeg bulenya minta maaf dengan bahasa Bali lalu kejengat-kejengit (cengengesan) saya jengkel sekali. Seandainya saya bukan ketua Parisada bisa beda urusannya itu," imbuhnya. 

Sehingga dari pihak PHDI, KMHDI serta seluruh Ormas Hindu mendorong agar bagaimanapun caranya bule yang naik di Pelinggih Pura Batukaru diproses hukum.

"Ini pelecehan. Mohon apa yang saya katakan ditindaklanjuti dan dilaksanaan," tegasnya.

Sementara itu Kadis Pariwisata Provinsi Bali, AA Gede Yuniartha Putra mengatakan bahwa dirinya secara pribadi sangat tidak setuju pura dijadikan objek wisata. 

"Mungkin karena desa mencari dana sehingga membolehkan turis masuk. Banyak pura kita yang tidak terjaga dan bahkan ada juga untuk objek wisata sampai dibuka 24 jam," katanya.

Jika pura itu masih tetap dijadikan objek wisata maka ia meminta agar turis dilarang masuk ke jeroan atau utama mandala.

"Kita tidak menyetujui masuk ke utama hanya sampai jaba pura saja kalau pura itu masih jadi objek wisata. Saat revisi Perda nomor 2 tahun 2012 ini mungkin bisa dimasukkan," katanya. (*)

Penulis: Putu Supartika
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved