Bawa 15 Butir Narkotik ke Bali, WN Malaysia Dituntut 10 Tahun Penjara

Mohammad Aryfan hanya bisa diam menunduk saat Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntutnya dengan pidana penjara sepuluh tahun

Penulis: Putu Candra | Editor: Irma Budiarti
KOMPAS.com
Ilustrasi 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Mohammad Aryfan bin Jamalludin (23) hanya bisa diam menunduk saat Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntutnya dengan pidana penjara selama sepuluh tahun.

Pria asal Kuala Lumpur, Malaysia ini dinilai bersalah karena membawa narkotik jenis MDMA sebanyak 15 butir seberat 4,10 gram netto ke wilayah Pabean wilayah Indonesia.

Demikian disampaikan Jaksa Dipa Umbara dalam surat tuntutan yang dibacakan di persidangan Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Rabu (19/9/2018).

Menanggapi tuntutan jaksa tersebut, terdakwa yang didampingi penasehat hukumnya, yakni Edward Pangkahila hanya menyampaikan pembelaan secara lisan.

Dalam pembelaan, pada intinya baik terdakwa maupun penasehat hukumnya memohon kepada majelis hakim agar memutus dengan hukuman seringan-ringannya.

Lalu jaksa menanggapi pembelaan itu, dan menegaskan tetap pada tuntutan.

Usai saling menanggapi, sidang pun ditunda dan digelar pekan depan dengan agenda pembacaan amar putusan.

Sementara diajukan tuntutan pidana itu terhadap terdakwa Mohammad Aryfan, karena jaksa menilai perbuatan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah tanpa hak atau melawan hukum memproduksi, mengimpor, mengekspor, atau menyalurkan narkotik golongan I bukan tanaman.

Sebagaimana dakwaan alternatif kesatu, terdakwa yang masih berstatus mahasiswa D3 jurusan Designer Interior dijerat Pasal 113 ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotik.

Atas dasar itu, Jaksa dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bali itu menuntut supaya majelis hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini menjatuh hukuman penjara terhadap diri terdakwa.

"Menuntut, menjatuhkan pidana kepada terdakwa dengan pidana penjara selama sepuluh tahun dan denda Rp 1 miliar, subsider enam bulan penjara," tegas Jaksa Dipa Umbara dihadapan majelis hakim pimpinan Esthar Oktavi.

Namun sebelum pada inti tuntutan, Jaksa Dipa Umbara terlebih dahulu memaparkan hal memberatkan dan meringankan sebagai pertimbangan tuntutan.

Hal yang memberatkan disebutkan bahwa terdakwa sudah mengetahui dan menyadari mengunakan dan menguasai narkotik dilarang di Indonesia dan Malaysia.

"Hal meringankan, terdakwa dinilai bersikap sopan selama persidangan, kooperatif dan masih berusia muda dengan harapan masih bisa memperbaiki diri," urainya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved