Penelitian ini Jadi Acuan Greenpeace untuk Buktikan Besarnya Potensi Energi Surya di Bali

Greenpeace secara berkelanjutan terus menolak pengembangan PLTU Celukan Bawang di Kabupaten Buleleng, Bali

Penelitian ini Jadi Acuan Greenpeace untuk Buktikan Besarnya Potensi Energi Surya di Bali
Tribun Bali/I Wayan Sui Suadnyana
Adila Isfandiari, Peneliti Iklim dan Energi Greenpeace melakukan presentasi saat diskusi bertajuk Matahari untuk Bali di Rumah Sanur, Kamis, (27/09/2018) 

Laporan wartawan Tribun Bali, I Wayan Sui Suadnyana

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Greenpeace secara berkelanjutan terus menolak pengembangan PLTU Celukan Bawang di Kabupaten Buleleng, Bali.

Bukan hanya sekadar menolak, mereka juga menyuguhkan solusi pengembangan energi alternatif yang lebih ramah lingkungan.

Dalam Diskusi bertajuk "Matahari untuk Bali" di Rumah Sanur, Kamis (27/09/2018) pagi, Adila Isfandiari, Peneliti Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia mempresentasikan 3 penelitian yang membuktikan besarnya potensi energi matahari di Bali.

Penelitian pertama, kata Adila, dilakukan oleh Rumbayan dan kawan-kawan pada tahun 2012.

Hasil penelitian itu menjelaskan Bali memiliki cuaca cerah selama 12 jam di siang hari, dan stabil sepanjang tahun.

Rata-rata radiasi matahari juga lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah lainnya, yakni sebesar 5.3 kWh/m2 per hari.

B.P Sah dan P. Wijayatunga tahun 2017 pada Asian Development Bank Sustainable Enviromental Enviroment Working Paper Series mencatat bahwa Bali memiliki iradiasi solar.

Radiasi berkisar antara 1,490 hingga 1,776 kWh/m2/tahun.

"Angka ini melebihi yang ditetapkan oleh Eropa untuk kelayakan proyek energi surya, yaitu 900 kWh/m2/tahun," kata Adila saat mempresentasikan data tersebut.

Halaman
12
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved