Aksara Bali Butuh Pengembangan Huruf Baru, Begini Kata Prof Suarka

Perkembangan bahasa harus diikuti dengan pengembangan aksara sebagai lambang dari bahasa itu sendiri

Aksara Bali Butuh Pengembangan Huruf Baru, Begini Kata Prof Suarka
Tribun Bali/I Wayan Sui Suadnyana
Pertemuan DPRD dengan penyuluh bahasa Bali di Wantilan Gedung DPRD Bali pada Minggu, (07/08/2018). 

Laporan wartawan Tribun Bali, I Wayan Sui Suadnyana

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Bahasa apapun di dunia, sifatnya selalu dinamis dan berkembang.

Perkembangan bahasa ini juga harus diikuti dengan pengembangan aksara sebagai lambang dari bahasa itu sendiri, termasuk bahasa Bali.

"Jadi bahasa itu kan alat perekam kebahasaanya adalah aksara. Jadi kalau bahasanya berkembang, tentu aksaranya juga berkembang," jelas Prof. I Nyoman Suarka saat menghadiri acara Makhuta Mandhita: Pemuliaan Bahasa Aksara dan Sastra Bali di Wantilan DPRD Provinsi Bali, Minggu (7/10/2018).

Kegiatan itu adalah pertemuan antara penyuluh bahasa Bali dengan DPRD serta akademisi dan stakeholder untuk membahas Bulan Bahasa Bali pada Februari 2019 mendatang.

Penambahan aksara-aksara baru ini, kata Prof Suarka, dibutuhkan karena bahasa Bali selalu menyerap bahasa asing sehingga nantinya bisa dinamis.

Pengembangan bahasa ini harus diikuti dengan kata-kata yang biasanya diserap dalam bahasa yang bersangkutan.

Prof. Suarka menyontohkan, hal itu misalnya pada bahasa Inggris yang memiliki aksara-aksara atau lambang-lambang akronim yang tidak dimiliki oleh bahasa Bali.

"Jadi kalau kita di (aksara) Bali kan baru punya P saja, nah ketika memakai V yang (pada tulisan) vespa terus kita surat seperti apa? Karena kita memiliki keterbatasan aksara," paparnya.

Menurut Prof. Suarka keberadaan bahasa Bali perlu mengakomodasi pengembangan bahasa teruma yang sering diserap ke dalam bahasa Bali.

Baginya bahasa Bali bukan hanya untuk orang Bali tetapi juga digunakan oleh orang luar Bali termasuk orang asing.

"Dan bahasa Bali tidak hanya digunakan untuk menuliskan persoalan Bali, tetapi juga untuk menuliskan persoalan dunia dan pengetahuan, juga yang global sifatnya. Nah ini yang perlu kita akomodasi sehingga pengembangan aksara mutlak bagi saya," terangnya.

Pengembangan aksara ini, menurut Prof Suarka, tidak akan melanggar filosofi aksara Bali.

Dirinya juga menyontohkan bahwa perubahan aksara ini pernah terjadi pada masa peralihan dari aksara Jawa ke Bali, yang awalnya sebanyak 20 buah dan pada akhirnya di Bali menjadi 18 buah. (*)

Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved