Garapan Back to Nature Diangkat dari Fenomena Bencana Gempa Lombok dan Palu

Sebanyak dua garapan ditampilkan dalam gelaran Bali Mandara Nawanatya III, Jumat (19/10/2018) malam

Garapan Back to Nature Diangkat dari Fenomena Bencana Gempa Lombok dan Palu
Istimewa
Penampilan siswa SMAN 1 Bangli dalam Bali Mandara Nawanatya III, Jumat (19/10/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Mengambil tempat di Kalangan Madya Mandala Art Center, Denpasar, Jumat (19/10/2018) malam, sebanyak dua garapan ditampilkan dalam gelaran Bali Mandara Nawanatya III.

Keduanya merupakan garapan SMAN 1 Bangli yang bertema Back To Nature, dan operet dari SMAN 4 Denpasar mengangkat kisah Mayadenawa.

Back To Nature dari SMAN 1 Bangli ini melihat fenomena alam yang tengah terjadi di negeri ini, seperti gempa di Lombok, Palu, dan Donggala.

“Sebagai manusia kita lupa bahwa keadaan alam ini tidak baik-baik saja, seperti halnya sekarang banyak bencana alam yang menerjang Indonesia seperti di Palu, Lombok, dan Donggala,” kata I Wayan Yudha Pangestu salah satu penggarap garapan ini.

Yudha menuturkan, dengan adanya garapan ini dapat memberi pesan kepada masyarakat bahwa alam hendaknya dicintai layaknya manusia mencintai diri sendiri maupun mencintai pujaan hatinya.

Menurut Kepala SMAN 1 Bangli, I Nengah Sudaya persiapan yang dilakukan anak didiknya cenderung mendesak.

“HUT tanggal 25 Oktober, di Bangli juga ada upacara, hanya tiga minggu anak-anak dapat latihan dengan mandiri,” kata Sudaya.

Penggabungan unsur kesenian seperti tabuh, tari, dan unsur drama merupakan bentuk pengembangan kesenian yang digiatkan oleh SMAN 1 Bangli.

Sementara itu, SMAN 4 Denpasar yang hadir sebagai penampil kedua menyuguhkan penampilan berupa paduan suara dari KSM 4 (Grup Paduan Suara SMAN 4 Denpasar), Tari Prabasastra (Werdhi Yowana), dan sebagai pamungkas hadir garapan berupa operet yang menyajikan kisah Mayadenawa.

Garapan yang kental dengan penggabungan unsur modern dan tradisional ini pun menghibur para penonton yang rata-rata berasal dari generasi milenial.

“Ini puncak kreativitas dari siswa-siswi kami, sehingga anak-anak dapat mengorganisasi diri mereka yang berkaitan dengan seni, pendidikan, dan kepercayaan diri,” kata I Ketut Kerta, Kepala SMAN 4 Denpasar.

Kendala yang dialami anak didiknya yakni pada proporsi dan tujuan utama pembelajaran.

“Salah satu dari sekian tujuan kan tujuan utama belajar, kalo tidak disikapi dengan baik kena aturan akademis, jadi ada dispensasi untuk siswa yang terlibat dalam pentas,” ungkap Kerta. (*)

Penulis: Putu Supartika
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved