Dharma Wacana

Ngaben Kolektif Tak Boleh Saklek

Ngaben kolektif atau massal saat ini menjadi opsi desa pakraman meringankan biaya masyarakat menggelar ritual kremasi secara adat

Ngaben Kolektif Tak Boleh Saklek
TRIBUN BALI
Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda 

Secara tattwa agama Hindu, kematian merupakan karma setiap orang.

Saat dia meninggal, dia dipanggil untuk menuju ke alam pembebasan.

Istilahnya, tiket ke alam sana dia sudah punya.

Tapi sarana untuk ke sana dia tidak punya.

Sarana dalam hal ini adalah ritual Pitra Yadnya.

Jadi itu artinya, adat telah menghalangi perjalanan Sang Atma mencapai alam pembebasan.

Harusnya ngaben premangkin itu diutamakan, tapi dengan catatan, melibatkan krama secara fleksibel.

Sebab bagaimanapun, setiap masyarakat harus bekerja.

Terkait peran subsidi silang dalam ngaben kolektif?

Saya mengerti soal itu.

Tapi coba pikirkan, bagaimana jika anak-anak merantau?

Anak yang merantau tentu ingin cepat membersihkan orang tuanya.

Sebab kalau dikubur, siapa yang memunjung ke setra?

Kan jadi masalah ini.

Di lain sisi, saat ngaben kolektif, ngayah di banjar sampai tiga bulan.

Pernah ada kejadian, dia bekerja sebagai karyawan outsourcing.

Begitu ngaben massal, ngayahnya tiga bulan.

Jangankan tiga bulan, libur satu minggu saja sulit.

Memang secara finansial, ngaben kolektif bisa dikatakan sedikit biaya karena ditanggung banyak pihak.

Ada LPD.

Tapi ngayah kan tidak bisa seperti itu.

Maka itulah orang lebih condong ke kremasi.

Karena mereka ingin praktis.

Secara filosofi tidak menyalahi agama.

Marilah desa pakraman kembali pikirkan, janganlah membuat aturan-aturan yang menyimpang atau mengkerdilkan orang dalam beragama. (*)

Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved