Ngopi Santai

‘Orang Miskin Dilarang Sakit’: Antara Sindiran dan Penegasan Takdir

Kini, pameo‘Orang Miskin Dilarang Sakit’ berada dalam dua hal yang berlainan: antara sindiran dan penegasan takdir

‘Orang Miskin Dilarang Sakit’: Antara Sindiran dan Penegasan Takdir
Ilustrasi pixabay.com
Ilustrasi pixabay.com 

TRIBUN-BALI.COM - Ni Luh Putu Ariati hanya bisa tersenyum kecut saat petugas parkir rumah sakit menarik tarif parkir motornya sebesar Rp 20 ribu; dengan hitungan tarif berdasarkan lama waktu parkir hingga mencapai 73 jam alias 3 hari 56 menit.

Kalkulasi biaya segitu didapat setelah pihak rumah sakit memberlakukan tarif parkir progresif yang diklaim guna mengurai volume parkir kendaraan yang membeludak di lahan yang terbatas.

Singkatnya, waktu parkir pengunjung pasien normal dibatasi hanya untuk 6 jam saja dan dikenai tarif normal Rp 1000. Namun, jika waktu parkir lebih dari itu, maka tarif biaya parkir akan dilipatgandakan dengan besaran Rp 1000 di tiap jamnya.

Padahal, ia sedang menunggu suaminya yang sedang terbaring tanpa daya usai kecelakaan tunggal yang dialaminya sepulang kerja. Oleh kepolisian, ia diduga mengantuk dalam perjalanan saat mengemudi hingga kemudian menabrak pohon pembatas jalan.

Di tengah perawatan intensif sang suami di tempat pembaringannya, ia rela bolak-balik menempuh jarak sekira 7 km bolak-balik dengan rute rumah sakit - rumah - sekolah.

"Suami saya sudah dirawat sejak 6 hari lalu. Anak saya yang paling kecil masih kelas 3 SD. Tiap hari saya yang anter sekolah. Sementara ini, harus rela bolak-balik," katanya meringis.

Dalam situasi itu, perputaran ekonomi harian keluarga yang mengarungi bahtera rumah tangga sejak pertengahan 2000 silam ini kontan macet di tengah jalan.

Tahu hari-hari yang pelik kian dekat, ia mulai kasak-kusuk, menangis sesenggukan tengah malam, memikirkan ribuan alternatif cara mendapatkan uang untuk tetap bertahan.

Hingga kemudian, solusi satu-satunya yang bisa ia lakukan cuma satu; sebagaimana fondasi utama dalam ekonomi adalah modal. Dan bahkan jika ia tak memiliki modal apapun, masih ada jalan lain menuju Pyongyang; yakni dengan cara berhutang.

"Sebenarnya terus terang saya capek utang sana, utang sini. Utang itu aslinya bukan jalan keluar, bli. Utang kan cuma nunda masalah aja. Namanya nunda ya kayak lupa. Baru inget kalo pas ditagih, pake bunga lagi," keluhnya terkekeh seraya memberikan nasihat yang tak mungkin saya tulis disini.

Halaman
1234
Penulis: eurazmy
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved