Ngopi Santai

Apakah Tanaman Bisa Mendengar Manusia? Begini Menurut Penjelasan Sains

Dirinya percaya bahwa makhluk hidup, termasuk tanaman seperti bunga anggrek itu, juga memiliki energi hidup

Apakah Tanaman Bisa Mendengar Manusia? Begini Menurut Penjelasan Sains
plantrescue.com
Ilustrasi - Bunga Anggrek 

Kemudian pada tahun 1962, Dr TC Singh, Kepala Departemen Botani di Universitas Annamalia, India, bereksperimen dengan efek suara musik pada tingkat pertumbuhan tanaman.

Ia mendapati bahwa biomassa dari bunga balsam tumbuh pada tingkat yang dipercepat sebesar 20% dan 72% ketika terekspos alunan musik klasik.

Akhirnya, eksperimen ilmiah belakangan ini membuktikan bahwa tanaman bisa bereaksi terhadap sentuhan manusia dan bahkan tanaman pun bisa "mendengar", selain --yang sudah umum diketahui-- bahwa tanaman bereaksi terhadap perubahan suhu dan terpaan angin.

Itu seperti ditunjukkan oleh hasil riset dua ahli biologi dari University of Missouri-Columbia, Heidi Appel and Rex Cocroft, yang kemudian dipaparkannya dalam jurnal Aecologia  (2014).

"Kita bisa membayangkan penerapan hasil riset ini, dimana tanaman bisa dirawat dengan suara atau direkayasa secara genetika untuk merespon bunyi tertentu, yang bisa jadi akan berguna bagi dunia pertanian (karena bisa mengurangi penggunaan pembasmi hama dari bahan kimia)," kata Heidi Appel seperti dikutip The Washington Post pada 6 Juli 2014.

Kesimpulan tersebut diambil dari observasi mereka atas respon tanaman Arabidopsis  terhadap suara yang dikeluarkan ulat saat hewan itu memakan dengan menggigit daun-daun tanaman Arabidopsis itu.

Setelah gigitan-gigitan awal ulat pada daun-daun Arabidopsis yang "didengar" oleh tanaman itu, langsung tanaman itu merespon dengan meningkatkan konsentrasi kimiawi pertahanan dalam sistemnya, yang membuat daun-daunnya yang di awal terasa lezat, jadi berubah berasa tidak enak dan beracun (toxic).

Ini semacam bekerjanya sistem imunitas (kekebalan) dalam tubuh manusia.

Cuma, jangan kemudian bayangkan bahwa tanaman itu memiliki telinga seperti manusia.

Kisah lain yang lebih ekstrem tentang ngobrol dengan makhluk hidup selain manusia, bahkan dengan benda-benda mati, juga saya pernah dengar.

Ini tentang seorang sopir dan angkutan pedesaan (angkudes) yang dikendarainya sehari-hari.

Saya lupa apakah kisah itu saya dengar sendiri dari si sopir ataukah saya mendengarnya dari seorang kawan. Sudah cukup lama saya dengar kisah itu, sehingga jadi lupa-lupa ingat.

Tapi, konten ceritanya saya ingat betul, karena benar-benar menarik perhatian dan menembus batas logika saya saat itu.

Singkat cerita, ketika sedang membersihkan angkudes-nya, si sopir mengajak 'ngobrol' kendaraannya itu seakan-akan si angkudes memiliki telinga untuk mendengar ucapan manusia.

"Ketika saya lap dan sirami supaya bersih, saya bayangkan angkudes ini merasa segar dan gembira. Saya anggap dia teman kerja saya. Kadang saya elus sembari ucapkan ‘terima kasih ya sudah bersama saya bertahun-tahun mencari rezeki. Kamu juga tak pernah rewel dan mogok’," begitu tutur si sopir tentang bagaimana cara dia memperlakukan alat dan 'teman kerjanya' itu.

Saya tidak tahu bagaimana menjelaskan secara ilmiah kisah “obrolan” sopir itu dengan angkudes-nya.

Maksudnya, bagaimana menjelaskan kaitan antara doa atau harapan yang kita “interaksikan” ke benda-benda, dan bagaimana kemudian benda-benda itu “memberikan respon”.

Anda tahu? Bagaimana pendapat Anda?

Denpasar, 24 Oktober 2018

Penulis: Sunarko
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved