Bali Paradise

'Pertarungan Raksasa dan Berkat Bagi Manusia' Menghibur Pengunjung Bali Mandara Nawanatya III

Gelar Seni Akhir Pekan Bali Mandara Nawanatya menampilkan garapan SMKN 4 Denpasar dan SMAK Harapan

'Pertarungan Raksasa dan Berkat Bagi Manusia' Menghibur Pengunjung Bali Mandara Nawanatya III
Istimewa
Penampilan dari siswa SMKN 4 Denpasar dan SMAK Harapan dalam Bali Mandara Nawanatya III, Sabtu (27/10/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Mengambil tempat di Kalangan Madya Mandala, Art Center, Denpasar, Gelar Seni Akhir Pekan Bali Mandara Nawanatya III menampilkan garapan SMKN 4 Denpasar dan SMAK Harapan pada Jumat (26/10/2018) malam.

Penampilan diawali oleh SMKN 4 Denpasar membawakan garapan bertajuk Bali Maya, mengisahkan pertempuran para Bhuta Kala yang berakhir semuanya meninggal dunia.

“Setelah raksasa itu bertempur dan meninggal dunia lalu muncullah tari joged bumbung,” kata Koordinator Garapan, Ida Ayu Ketut Wiswantini.

Untuk pementasan ini dipersiapkan kurang lebih sebulan dengan melibatkan siswa-siswi SMKN 4 Denpasar, yang mayoritas bernaung dalam kelompok ekstra tari dan tabuh yakni Komunitas Seni Catur Swaram Kencana.

Dari garapan Bali Maya ini, Wiswantini pun berharap dapat menjadi sarana hiburan untuk penikmat seni dan sarana berkreasi untuk siswa-siswi SMKN 4 Denpasar.

Selanjutnya, tampil SMAK Harapan yang membawakan garapan bertajuk Tari Amertha Candra Bhuana yang bertemakan Menjadi Berkat dan Terang Dunia.

“Wujud bhakti kepada alam semesta dan Sang Pencipta kami terjemahkan dalam garapan ini,” jelas I Nyoman Murdita selaku penata tari.

Tarian yang tercipta pada tahun 2011 ini pun melambangkan perwujudan dunia dan manusia yang dikasihi dan diberkati oleh Sang Pencipta, sehingga digarap dalam 3 bagian seni dan tabuh.

“Tiga bagian itu diantaranya ada tari kayonan, delapan penari yang melambangkan arah mata angin, dan kehadiran malaikat,” kata Murdita.

Meski terinspirasi dari beberapa bagian ajaran umat Nasrani, yakni Matius 5 ayat 16 dan diambil Matius 28 ayat 19 dan 20, namun garapan ini menurut Murdita tetap memiliki nuansa budaya Bali.

Pada akhir garapan, muncullah tarian simbol kehadiran Yesus sebagai tuhan, bersama malaikat sorgawi membawa terang dan berkat bagi dunia dan bagi umat manusia dan memanggil setiap orang untuk menjadi berkat dan terang.

Sehingga melalui pimpinan Roh Kudus manusia mampu menjadi terang dan berkat. (*)

Penulis: Putu Supartika
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved