Why Always Spaso?
Kenapa harus selalu Spaso yang jadi sorotan? Hampir setiap laga, nama Spaso memang selalu jadi pembicaraan publik.
Penulis: Komang Agus Ruspawan | Editor: Irma Budiarti
TRIBUN-BALI.COM - Spaso be main pelih. Spaso sing main masi pelih!
Kenapa harus selalu Spaso yang jadi sorotan?
Hampir setiap laga, nama Spaso memang selalu jadi pembicaraan publik.
Entah karena bermain buruk atau mencetak gol.
Nama Spaso kembali mengemuka usai laga Bali United kontra Borneo FC di Stadion Dipta Gianyar, Kamis (25/10/2018) malam.
Dalam laga tersebut, Coach Widodo C Putro mengistirahatkan Spaso.
Inilah kali pertama striker naturalisasi ini diparkir meski dia dalam kondisi fit.
Dicadangkannya Spaso mungkin menjadi bagian dari strategi baru WCP menghadapi Borneo.
Apalagi setelah Bali United dikalahkan Arema FC 1-3 di Malang.
Namun untuk diketahui, racikan baru WCP ini juga tak lepas dari munculnya desakan suporter.
Mereka bahkan membuat surat terbuka kepada WCP yang berisi susunan pemain melawan Borneo.
Fans meminta Coach WCP tidak memainkan Spaso.
Sebagai gantinya, Melvin Platje diplot sebagai penyerang tengah karena dianggap lebih mumpuni.
Tidak hanya lini depan, fans juga melayangkan usulan nama-nama pemain di posisi gelandang dan belakang untuk mengisi starting eleven.
"Akhirnya pelatih mendengar masukan kita," demikian komentar yang berseliweran di media sosial sebelum kickoff lawan Borneo ketika mengetahui WCP memarkir Spaso.
WCP memang mengikuti sepenuhnya opini publik tersebut.
Lini depan diisi Platje, Lilipaly, Bachdim, dan Yabes Roni.
Spaso on the bench!
Apa yang terjadi?
Bali United tampil tanpa greget sepanjang babak pertama.
Dari kiper sampai lini depan tampil di bawah form.
Belakang rapuh, penjagaan di tengah longgar.
Platje tak berkembang sebagai centre forward.
Secara overall, performa tim kita kalah jauh dibanding penampilan Borneo.
Mereka tampil lebih rapi, spartan, dan skema permainannya jelas.
Makanya dua gol bersarang di gawang Wawan Spiderwan.
Ternyata formasi pilihan suporter tak sesuai ekspektasi.
Apa yang dipikirkan di atas kertas, tak sesuai kenyataan yang terjadi di lapangan hijau.
Dengan kondisi tertinggal dua gol, WCP memilih kembali ke formula awal di babak kedua.
Spaso akhirnya dimasukkan ganti Yabes Roni.
Disusul kemudian Kadek Agung dan Brwa Nouri menggantikan Bachdim dan Taufik.
Spaso kembali jadi penyerang tengah.
Platje dan Lilipaly ke sayap.
Kadek Agung diplot sebagai gelandang serang.
Ternyata komposisi ini yang akhirnya membuat permainan Bali United kembali hidup.
Nouri tampil baik di tengah.
Platje juga lebih berbahaya dan atraktif menyerang dari sayap.
Alhasil Bali United bisa menghasilkan dua gol, untuk samakan kedudukan lewat tendangan geledek Andhika Wijaya dan Kadek Agung.
Tim kebanggaan kita selamat dari kekalahan!
Tapi hasil imbang di kandang ini jelas melenceng dari target awal.
Tambahan satu angka membuat langkah menuju juara menjadi semakin terjal.
Spaso juga kecewa.
Kecewa dengan hasil imbang dan keputusan pelatih.
Ia langsung menuju ruang ganti usai laga, dan tidak ikut tradisi menyanyikan chant di tengah lapangan.
Lagi-lagi ia mendapat sorotan fans atas sikapnya itu.
Selalu, dan selalu Spaso!
Hak Prerogatif WCP
Lalu, apakah penampilan Bali United sejatinya lebih baik dengan Spaso atau tanpa Spaso?
Silakan publik bisa menilai sendiri performa tim kita dari dua babak lawan Borneo.
Tapi bagi saya, sejak awal Spaso memang belum menunjukkan kualitasnya sebagai target man.
Faktanya dari 22 kali tampil, ia baru mengoleksi delapan gol.
Namun bukan itu letak masalahnya sekarang.
Sebagai pelatih kepala.
Coach WCP punya hak prerogatif untuk menentukan starting line up.
Siapa dimainkan, siapa dicadangkan.
Boleh mendengar masukan dari berbagai pihak, tapi tidak mesti harus diikuti sepenuhnya hanya untuk menyenangkan hati mereka atau mencari posisi aman.
Sekali lagi, tidak boleh ada intervensi atau campur tangan untuk persoalan teknis.
Baik dari suporter, manajemen, atau owner sekalipun.
Seorang pelatih memilih pemain berdasarkan strategi, kebutuhan tim, dan kondisi pemain.
Bukan karena desakan atau tekanan.
Karena tim pelatihlah yang sesungguhnya lebih tahu dan paham kondisi anak asuhnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ilija-spaso_20181027_133123.jpg)